|
HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
|
|
|
anaitsi |
|
http://facebook.com/anaitsi |
|
http://friendster.com/anaitsi |

Kamis, 23 Juli 2009 pukul 18:11 WIB
Penulis : istiana ayuningtyas
Masih ingat dalam benaku, tiap pagi dirimu bangunkan aku untuk shalat subuh, membelikan sarapan untuk aku, sedangkan aku sibuk sendiri. Pagi itu, dirimu juga mengantarkan aku berangkat ke sekolah. Setelah mengantarku, dirimu barulah berangkat bekerja.
Jika hari menjelang sore, sepulang kerja, tak jarang dirimu membersihkan rumah yang seharusnya menjadi tugasku. Tapi dirimu tak marah padaku, dirimu tak tega menyuruhku karena aku sibuk belajar. Saat itu, yang terpikir olehku adalah belajar dan belajar, yang lain aku tak peduli.
Hampir tiap malam aku melihat dirimu memohon pada ALLAH dalam tahajudmu, dirimu shalat di dekat tempat tidurku. Saat itu, aku tak mempedulikan kehadiranmu, apalagi do'a yang kau panjatkan. Aku berpikir, itu hanyalah ritual biasa.
Tak hanya itu, dirimu selalu mengabulkan semua pintaku. Dirimu tidak pernah meminta balasan apa pun atas apa yang kau berikan padaku. Dirimu hanya selalu berpesan, "Jangan lupakan agamamu dan shalatmu!"
Meskipun sering selisih paham, tapi aku tak berani membantahmu, apalagi menatap mata elangmu. Dirimu punya arti besar dalam hidupku.
Sayangnya, ALLAH meminjamkan dirimu hanya 21 tahun untuk membimbingku. Tepat pada tanggal 1 Maret 2004, ALLAH memamggilmu. Bagai disambar petir kala itu, saat aku mendengar kepergianmu.
Saat itu, aku tak kuasa menahan tangisku, air mata tak henti-hentinya membasahi pipiku. Kulihat dirimu tertidur dengan senyum yang tersungging di bibirmu, dengan berbalut kain kafan. Aku sadar, dirimu tak akan pernah bangun lagi.
Kini, lima tahun sudah kau pergi meninggalkan aku, namun semua kebaikan yang kau ajarkan padaku tak akan pernah terlupa. Aku juga sadar, betapa indahnya tahajud di setiap malam yang kau contohkan padaku.
Ada dan tiada dirimu, kau tetap lelaki tangguhku, cintamu yang abadi, posisimu yang tak terganti, AYAH. Aku sadar, di balik kepergianmu, pasti ada hikmah.
Ayah, hari ini aku merindumu.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan istiana ayuningtyas sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.


