Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://caturcatriks.kotasantri.com
Bergabung
26 Maret 2009 pukul 20:35 WIB
Domisili
Banjarnegara - Jawa Tengah
Pekerjaan
Editor
Tulisan Catur Lainnya
Kujalani yang Terbaik
2 Agustus 2010 pukul 20:55 WIB
Kesempatan
27 Juli 2010 pukul 18:55 WIB
Cinta dan Takut
24 Juli 2010 pukul 16:00 WIB
Kekayaan Berharga
13 Juli 2010 pukul 16:25 WIB
Wajah yang Berdebu
8 Juli 2010 pukul 18:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Selasa, 17 Agustus 2010 pukul 20:55 WIB

Ikan Lele dan Belut

Penulis : Catur Catriks

Belut dan Lele bosan hidup di sungai. Sungai bagi mereka adalah tempat tinggal yang sempit. Air sungai tidak dalam. Airnya selalu bergerak. Mereka harus terus berenang agar tubuh mereka tidak terbawa arus.

Karena bosan dengan tempat hidup yang seperti itu, mereka berniat untuk pindah ke laut. Menurut mereka, laut adalah tempat hidup yang menyenangkan. Airnya tenang, dalam, dan luas. Di sana mereka bebas bergerak ke mana suka.

Maka pada suatu pagi, mereka mengumpulkan para penghuni sungai untuk berpamitan. Ada Gurami, Mujair, Mas, dan lain-lain.

“Kalau kalian memang sudah bertekad untuk pindah, kami tak dapat melarang kalian,” kata Gurami.

“Pergilah, tapi sesekali berkunjunglah ke sini, ke sungai ini. Kami akan merindukan kalian datang bermain bersama kembali dengan kami,” pesan Mujair.

“Berhati-hatilah di laut,” kata Ikan Sepat.

Akhirnya setelah saling bersalaman, Belut dan Lele melesat pergi. Mereka menuju ke bawah mengikuti aliran sungai. Menuju ke hilir sampai akhirnya sungai bermuara pada laut.

Sesampainya di pinggir laut, mereka langsung masuk. Tapi begitu mereka masuk, Lele dan Belut kaget.

“Waduh, teman, kok airnya asin, huek!” kata Belut.

“Iya, nggak enak, huk,” jawab Lele.

Mereka muntah beberapa kali.

Pada saat itu, tiba-tiba melesat di hadapan mereka ikan raksasa. Seekor ikan besar dengan gigi taring yang tajam. Itulah Hiu. Lele dan Belut lari ketakutan. Mereka lari masuk ke dalam laut.

Tapi semakin masuk ke dalam, air laut semakin asin. Mereka muntah beberapa kali. Badan mereka semakin lemah. Dan di dalam laut itu ia melihat ikan-ikan yang sangat besar yang sangat menakutkan.

Akhirnya Lele dan Belut memutuskan untuk kembali ke sungai. Kembali ke tempat mereka semula.

“Teman, bagaimana pun, rumah kita adalah tempat yang terbaik,” kata Gurami menasihati Lele dan Belut.

Lele dan Belut tertunduk tak menampakkan muka.

Suka
Mujahid Alamaya menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Catur Catriks sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Paku dan Amarah
Selasa, pukul 14:20 WIB
Jangan Lagi-Lagi!
Selasa, pukul 09:00 WIB
Seseorang yang Menyeduh Namamu
Kemarin pukul 13:13 WIB
Syahroni | Swasta
Subhanallah, KSC sangat bermanfaat bagi seorang hamba yang ingin menjalin silaturahim guna mencari keberkahan hidup. Saya juga berharap kiranya media ini bisa membantu saya dalam mengelola panti pendidikan anak-anak yatim.
KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.3922 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels