|
HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
|
|
|
http://hifizahn.multiply.com |





Sabtu, 21 November 2009 pukul 20:33 WIB
Penulis : Hifizah Nur
Baru-baru ini, di organisasi tempat saya beraktifitas sedang menjalani masa-masa regenerasi. Suatu masa yang sibuk, dan menjadi ajang untuk merefreshkan fungsi-fungsi organisasi yang kurang optimal di periode sebelumnya. Saya sendiri sempat dicalonkan menjadi ketua dalam organisasi tersebut. Namun, dengan alasan pribadi, saya mengundurkan diri dari pencalonan. Suatu hal yang sangat saya syukuri, karena terhindar dari musibah memegang amanah yang berat.
Saya sering mengamati perilaku berorganisasi pemimpin-pemimpin partai di Indonesia. Betapa partai menjadi ajang bagi peningkatan karir berorganisasi seseorang. Tidak salah memang, asal bermain dengan fair untuk mendapatkan tampuk kepemimpinan. Juga bila merasa mampu untuk mengendalikan amanah yang berat yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, sah-sah saja. Yang salah adalah, ketika ajang perebutan kursi kepemimpinan itu menjadi sengit, dan akhirnya menimbulkan perpecahan di antara anggota organisasi tersebut. Bukannya belajar tentang persatuan dan amal jama'i. Malah belajar gontok-gontokan di antara mereka sendiri. Sedihnya, hal ini terjadi hampir di seluruh partai, termasuk partai yang mengklaim dirinya sebagai partai islam.
Saya sendiri masih hijau dalam dunia berorganisasi, meskipun saya menggelutinya sejak duduk dibangku SMP. Saya senang berorganisasi. Bukan saja karena saya bisa belajar menjadi pemimpin dalam organisasi, tetapi juga banyak hal-hal lain yang bermanfaat, yang membuat saya tetap semangat menjalaninya sampai sekarang.
Beberapa manfaat yang saya temukan adalah;
Dengan berorganisasi, saya belajar berinteraksi dengan orang yang berbeda dengan saya, baik secara pemikiran, kecenderungan, potensi, dan hal-hal lain. Bagi saya, berorganisasi adalah seni dalam berukhuwah, bekerja sama, dan menerima perbedaan-perbedaan dengan saudara kita. Tentu saja banyak pengalaman saya yang gagal ketika menjalaninya, tetapi kegagalan itu justeru membuat saya semakin banyak belajar bagaimana berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain.
Berorganisasi membuat saya belajar bagaimana mengatasi masalah. Kecakapan problem solving ini tidak bisa didapatkan dengan sendirinya. Berlatih menjadi kunci semakin mahirnya seseorang dalam mengatasi berbagai masalah dalam kehidupan.
Berorganisasi membuat saya belajar mengkomunikasikan ide-ide saya, terutama seni dalam meyakinkan agar ide-ide tersebut bisa diterima orang lain. Selain itu, saya juga bisa belajar bernegosiasi. Juga menerima atau menolak ide-ide orang lain dengan cara yang baik.
Berorganisasi membuat saya belajar untuk tampil di depan umum. Melakukan komunikasi massa adalah sesuatu yang perlu dilatih. Semakin tinggi jam terbang seseorang, maka akan semakin terampil ia dalam berbicara di depan umum.
Berorganisasi membuat saya belajar memenej waktu saya dengan baik. Banyak waktu-waktu saya yang terbuang percuma ketika saya sedang off dalam berorganisasi. Ketika berorganisasi, saya bisa menggali potensi-potensi saya dan memaksimalkannya sebaik mungkin dengan wadah organisasi tersebut.
Lebih dari itu, karena di Jepang, tempat tinggal saya saat ini, komunikasi banyak dilakukan melalui internet, maka saya belajar menuliskan ide-ide saya agar bisa diterima oleh orang lain. Suatu kemampuan yang berbeda dibanding dengan menyampaikannya secara langsung melalui lisan.
Itulah beberapa manfaat berorganisasi yang saya temukan. Bukan hanya sekedar meniti karir kepemimpinan, tetapi lebih jauh dari itu, bagaimana agar saya bisa melatih diri saya dalam beramal jama'i. Setitik saja yang bisa saya lakukan, mudah-mudahan meringankan beban perjalanan untuk mencapai tujuan dalam perjuangan Islam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.


