|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|





Sabtu, 13 Maret 2010 pukul 20:55 WIB
Penulis : Iffa Lathifah
Entah bahasa apa yang paling membekas di hati agar kita memahami makna persaudaraan dan pentingnya persatuan umat. Telah kita saksikan kepedihan sejarah yang mendera umat Islam selama ini karena hilangnya kerinduan yang dalam untuk terwujudnya persaudaraan dan persatuan. Kalaupun ada, itu hanya sekedar pemanis pidato dan retorika.
Nurani terasa bergetar setiap mendengar gelora mubaligh cerdik yang menggelitik jiwa agar kita mau melepaskan segala kebanggaan mazhabiyah dan menggantinya dengan kerinduan akan persaudaraan, membangun kekuatan jama'ah, satu komando, satu kepemimpinan, satu cita-cita, seraya membakar bibit-bibit perpecahan dan merenda kembali persaudaraan Islam yang nyata.
Alangkah sedihnya nasib umat, alangkah redupnya persaudaraan, seruan mubaligh hanya angin lalu sesaat kemudian kita pun asyik dengan diri sendiri, membanggakan golongan dan mahzab masing-masing seakan-akan mata hati dan pendengaran buta dan tuli untuk melihat dan mendengar jeritan umat yang tercabik oleh kaum kafir yang melahap hampir seluruh tubuh umat Islam. Lantas, bahasa apa yang dapat memukau tuk kita mengerti dan bertindak dengan banyaknya persoalan umat?
Kalau saja kita mau merenung dengan sangat mendalam dengan hati seorang mukhlis, apalah artinya kehadiran partai, golongan, dan organisasi Islam, bila bukan untuk membangun persatuan dan persaudaraan Islam? Kalau saja dalam jiwa para pemimpin masih bergemuruh kerinduan untuk menjayakan Islam dan umatnya, lantas beban apakah yang paling berat untuk melepaskan atribut sebagai ketua atau apa pun jabatannya kalau bukan untuk persatuan umat? Kiranya kita masih membutuhkan lebih banyak negarawan yang berpihak kepada umat yang banyak dan tidak sekedar menampakan wajah politisi yang hanya memiliki ambisi memenangkan partai atau golongannya.
Sungguh, salah satu kelemahan kita saat ini justru sering berbantah-bantahan dalam hal yang berkaitan dengan khilafiyah atau kerangka penafsiran syar’iyah, kemudian perbedaan ini merembes ke dalam hati sanubari umat dalam bentuk mengulurkan tali ukhuwah. Bentuk inilah yang akan melemahkan kekuatan Islam, maka setiap apa pun anggota jama'ah yang terhimpun dalam harakah dakwah apa pun nama gerakannya, harus memiliki sikap toleran yang sangat tinggi terhadap saudaranya yang lain, toh mereka masih shalat menghadap kiblat yang sama dan masih melafadzkan dua kalimat syahadat. Kita harus pahami dan mensyukuri kepada Ilahi Rabbi bahwa ada saudara kita yang bersyahadat, karena hal itu merupakan aset Ilahiyah yang harus kita kelola bersama, maka jika kita berlaku kasar, niscaya mereka akan lari dari tatanan Islam dan akhirnya akan menambah persoalan baru.
Tidak ada yang paling indah dalam kehidupan ini kecuali memiliki sahabat dalam iman.
Sebuah kesadaran hanya dapat dipahami melalui perenungan dan kerendahan hati yang penuh rasa takut. Tentu saja segudang argumentasi dapat tersusun dengan rapi dan jenius untuk menyatakan bahwa perbedaan tersebut tidak menunjukan suatu perpecahan, benar-benar hanya siasah, bukan tujuan melainkan alat. Dan untuk kesekian kali harus kita pahami bahwa apa pun bentuk siasah, taktik, metode, atau wasilah akhirnya akan terpulang kepada hati nurani masing-masing. Benarkah kita ketika berargumen bahwa partai atau golongan itu sekedar siasah dan tidak dipengaruhi unsur hawa nafsu fanatisme golongan atau ashabiah?
Totalitas gerakan, bertumbuhannya organisasi atau partai tidak lain karena ingin menjadikan diri sebagai teladan dalam akhlaq persaudaraan, inilah kunci kelemahan umat Islam. Tidak pernah ada satu aksioma yang dapat memenangkan perjuangan umat Islam kecuali sebuah tatanan jama'ah dan persaudaraan. Semangat berjama'ah bukan berarti membunuh kreativitas dan perbedaan, semangat berjama'ah untuk mengutamakan cinta kasih penuh persaudaraan di tengah perbedaan. Tanpa semangat itu, demokrasi akan menjadi anarki, mazhab akan menjadi Tuhan, orang-orang kuat akan menjadi serigala yang siap memangsa yang lemah.
Saat ini, umat Islam terlena dalam gemuruh hiasan duniawi yang diimpor dari pusat-pusat pergerakan nonmuslim, sumber daya alam yang melimpah digadaikan karena kebodohan dan etos kerja yang lemah, jiwa kita dirasuki khayalan sesaat persis sebuah untaian peribahasa, ”Siang hari kamu lupa bekerja dan lalai, wahai orang yang tertipu. Sedang malam hari kamu lelap tertidur merenda mimpi merajut khayal.” Sungguh celaka tak terelakan.
Maka, harusnya kita terjaga dari tidur dan khayalan sesaat tuk memahami makna aqidah sebagai keberpihakan, dan bersiasat haruslah berpihak kepada Allah dan RasulNya.
Sahabat, betapa pentingnya arti persaudaraan dalam pembangunan dan pengembangan bangsa demi terciptanya bangsa yang beradab dan beragama. Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghaffur atau masyarakat madani.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Iffa Lathifah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.


