Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
Alamat Akun
http://yantia.kotasantri.com
Bergabung
28 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Balikpapan - Kalimantan Timur
Pekerjaan
Ibu Rumah Tangga
razan.pranoto@yahoo.com
Tulisan Yanti Lainnya
Oseng-oseng Telur
27 Desember 2009 pukul 20:35 WIB
Memberi Sebelum Diminta
23 Desember 2009 pukul 18:44 WIB
Boost Your Own Self Esteem
12 Desember 2009 pukul 19:35 WIB
Kematian itu Indah
11 Desember 2009 pukul 17:15 WIB
Sup Ayam Jagung Manis
29 November 2009 pukul 19:40 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 23 Januari 2010 pukul 18:44 WIB

Wanita, Antara Tugas Sebagai Istri dan Ibu

Penulis : Yanti Afriyani

Meskipun ada penegasan yang begitu serius bahwa peranan wanita sebagai manusia adalah peranannya yang pertama dalam kehidupan, namun secara praktis, peranan yang pertama ini nyaris hilang ketika kita mengetahui adanya perhatian utama Islam terhadap peranan wanita sebagai istri dan sebagai ibu yang menuntut ketergantungan kepada rumah untuk menjaga anak-anak, serta memenuhi semua kebutuhan suami.

Apakah menurut kacamata Islam hanya wanita saja yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak? Apakah ia harus menemani anak-anaknya sepanjang waktu? Pertama-tama, meskipun Islam begitu serius dalam menegaskan pentingnya peranan wanita sebagai ibu dan sebagai istri, namun kita tidak mampu memanfaatkan garis-garis besar hukumnya yang membebani seorang ayah untuk memikul tanggung jawab keluarga, khususnya anak-anak, dan memberinya hak pengasuhan mereka pada saat terjadi perceraian.

Sesungguhnya ayah dan ibu merupakan dua mitra yang efektif dalam proses pendidikan. Meskipun Islam menyucikan keibuan, namun ia tidak menjadikan ibu bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak. Sesungguhnya sifat kebapakan dan keibuan di samping memiliki dimensi sentimental, juga memiliki dimensi pendidikan yang mereka berdua menjadi sempurna di dalamnya, di mana karakter alami masing-masing dari mereka berdua (ibu sebagai perempuan dan ayah sebagai laki-laki) dan hubungan alami yang mengikat anak dengan ayah dan ibu memainkan peranan dalam perkembangan kepribadian anak dan pembekalannya pada setiap level.

Salah satu contoh kesempurnaan itu adalah apa yang diberikan ibu terhadap anaknya dengan adanya persentuhannya secara langsung dengan badan anak dan pemenuhannya terhadap kebutuhan si anak, baik kebutuhan fisik maupun psikologis ('athifiyyah) dengan merasakan keamanan internal (al-aman ad-dakhili). Sedangkan ayah, melindunginya melalui penjagaannya terhadap persoalan-persoalan luar si anak dengan memberinya perasaan yang dalam dengan adanya perlindungan dan kekuatan yang dengannya dia dapat menghadapi dunia luar.

Kedua, sesungguhnya pengasuhan ibu terhadap anaknya mempunyai kepentingan besar berkaitan dengan si anak. Namun, tidak ada keharusan bagi wanita untuk selalu bersama anak, dan tidak juga bersama suami, kecuali apabila dia (suami) membutuhkannya secara khusus. Dari sinilah, penekanan tentang peranan wanita yang khusus sebagai istri dan sebagai ibu tidak bertentangan dengan peran umumnya sebagai manusia, karena peranan ini sendiri mengandung dimensi-dimensi umum kemanusiaan.

Pada saat si ibu memilih untuk bekerja daripada menemani anaknya sepanjang waktu, di mana ia dapat menitipkan anaknya? Apabila ibu sibuk sehingga tidak mempunyai banyak waktu untuk anaknya dikarenakan bekerja atau dikarenakan sebab apa pun yang lain, maka ia dapat menyerahkan tugas itu kepada siapa saja yang dianggapnya jujur atas si anak untuk mengisi kekosongan yang disebabkan kepergiannya. Namun sebisa mungkin ibu harus berusaha menyisakan waktu agar ia dapat memberikan perasaannya dan kasih sayangnya kepada anaknya yang dapat mengurangi perasan gelisah yang biasa dialami si anak karena kepergiannya.

Apakah meninggalkan anak dalam peranan pengasuhan merupakan hal yang dapat diterima? Boleh jadi meninggalkan anak di tempat penitipan anak merupakan solusi praktis dan paling tepat secara pendidikan dalam keadaan seperti itu, karena di sana ada ahli-ahli pendidikan yang biasanya mengawasi peranan itu. Namun, hendaklah si ibu menambah kerja kerasnya untuk menggantikan sesuatu yang hilang dari anak berupa kasih sayang pada saat kepergiannya, dan adanya perasaan gelisah dan lemah yang dirasakan anaknya di tengah-tengah cukup banyak anak kecil yang berbeda dengannya.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Yanti Afriyani sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Paku dan Amarah
Selasa, pukul 14:20 WIB
Jangan Lagi-Lagi!
Selasa, pukul 09:00 WIB
Seseorang yang Menyeduh Namamu
Jum'at, pukul 13:13 WIB
Eno Karta Susana | Guru
Subhanallah... KSC bisa dijadikan sebagai sarana kreativitas, nambah ilmu, dan mempererat tali silaturrahim. Tapi tetap kita harus berusaha menjaga niat. Semoga bermanfaat. Aamiin...
KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2935 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels