|
HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
|
|
|
http://asyifa85.blogspot.com |
|
asyifa85@yahoo.com |
|
|
asyifa85 |
|
asyifa85@yahoo.com |





Sabtu, 30 Januari 2010 pukul 18:55 WIB
Penulis : agus triningsih
Setiap anak yang lahir ibarat gelas kosong dan bening yang harus diisi dengan air oleh orangtuanya. Air inilah yang akan membentuk karakter, kepribadian, pola fikir, dan pola sikap anak dalam mengarungi kehidupannya.
“Bun, kok nilai Zaffa pas-pasan begini sih? Makanya lain waktu Bunda harus lebih intens lagi dong dampingin belajarnya!”
“Bunda, kok tadi Zaffa begitu sih? Kan gak sopan. Ayah malu dengan tamu kita tadi. Emang di sekolahnya gak diajarin yah? Bunda juga gak pernah ngajarin ya?”
“Bunda, nih si ade minta bacain buku cerita. Tugas kantor ayah numpuk nih, Bunda aja deh yang bacain, lagian kan biasanya memang dengan bunda.”
Demikianlah ayah Zaffa sehari-hari. Selalu saja menyerahkan semua urusan Zaffa kepada istrinya, bunda Zaffa. Ia merasa bahwa tugas utamanya sebagai seorang ayah adalah menafkahi istri dan anak-anaknya, sementara segala urusan rumah tangga dan urusan anak adalah tugas istrinya.
Ayah Zaffa tentu tak sendiri, ada banyak ayah di masyarakat kita yang juga berfikiran sama sepertinya. Mereka melakukan pembagian wilayah tugas. Tugas ayah adalah mencari nafkah dan karena itu sebagian besar waktunya ia habiskan di luar rumah, sementara ibu bertugas mengurusi dan mendidik anak karena punya banyak waktu di dalam rumah.
Dalam majalah Ummi edisi 02/XXI Juni 2009, Dr. H. Ahzahmi Sami’un Jazuli, MA., seorang dosen pasca sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyatakan bahwa pada dasarnya dalam Islam tidak ada pembedaan antara ayah dan ibu dalam tugasnya mendidik anak-anak mereka. Hanya bedanya, tugas ayah menjadi lebih berat karena dia memikul juga tugas-tugas lain di luar rumah, seperti mencari nafkah dan berdakwah. Sementara peran ibu dalam pendidikan anak justru dapat dikatakan sebagai mitra bagi para ayah.
Ayah dan ibu harus saling bekerjasama dalam pendidikan anak. Peran keduanya tidak bisa dilepaskan begitu saja. Sekalipun sang ayah sudah memenuhi kewajibannya mencari nafkah, hal itu tidak serta merta menggugurkan kewajibannya dalam mendidik anak, sehingga harus menyerahkan semua pendidikan anak hanya kepada seorang ibu. Orangtua juga tidak boleh sepenuhnya menyerahkan urusan pendidikan anak-anaknya ke sekolah. Kewajiban utama mendidik anak tetap ada di orangtuanya. Keberadaan sekolah hanya bersifat sekedar membantu.
Bagaimana dengan orangtua yang mengabaikan hak pendidikan anaknya? Ahzami merinci beberapa ancaman yang akan diterima orangtua tersebut.
Pertama, bisa berupa ancaman dunia. Jika orangtua tidak bisa mendidik anak dengan benar, maka anak yang tadinya nikmat dan anugerah Allah SWT, bisa berubah menjadi fitnah atau ujian.
Kedua, orangtua akan ditanya oleh Allah terkait anak, karena anak adalah titipanNya. Jadi bila anak berbuat maksiat, orangtua terancam tidak masuk syurga. Ketika anak disia-siakan atau tidak dididik dengan baik, maka orang yang paling bertanggung jawab adalah orang yang paling menyia-nyiakan anaknya itu, yang tidak peduli pada anaknya.
Nah, jadi, ayah bunda yang budiman, baik ayah maupun bunda sama-sama memikul tanggung jawab untuk mendidik anak-anak kita, agar mereka menjadi hamba yang Rabbani yang mampu memenuhi segala tuntutan hidup yang datang pada dirinya. Semoga setiap kita akan sukses mendidik anak-anak kita. Aamiin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan agus triningsih sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.


