|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
|
http://vienmuhadi.wordpress.com |





Sabtu, 20 Februari 2010 pukul 17:18 WIB
Penulis : Sylvia Nurhadi
Manusia pada umumnya amat mencintai kehidupan dunianya. Untuk mencapai itu semua, ia rela bersusah-payah bekerja siang dan malam tanpa mengenal lelah. Ia merasa hidupnya menderita bila kebutuhan hidupnya tidak semua terpenuhi. Ia merasa kurang sempurna bila tidak memiliki keturunan. Ia merasa terhina bila dirinya tidak mendapat penghargaan dari orang lain. Namun demikian, pada kenyataannya, tidak semua orang yang kebutuhan materi dan dunianya terpenuhi merasa bahagia dan tenang hidupnya. Jika demikian, di manakah sebenarnya letak permasalahannya?
Sebagai orang beriman, kita tentunya tahu dan yakin bahwa kita ini hidup karena Allah SWT. Dia-lah yang menciptakan kita. Dengan demikian, tentu Dia pulalah yang mengetahui segala kebutuhan kita. Dialah yang berkuasa atas segala yang ada pada diri kita, termasuk di antaranya kemudahan rezeki, kebahagiaan, dan ketenangan jiwa. Oleh sebab itu, di samping bekerja keras, seharusnya kita selalu bermohon kepadaNya agar usaha kita tersebut memberikan hasil yang terbaik. Kita mohon ridhaNya. Allah dengan jelas telah memberikan petunjuk bagaimana cara kita mendekatkan diri kepadaNya.
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut [29] : 45).
Allah mewajibkan setiap umatnya agar menikah dan berkeluarga. Demikian pula hadits Rasulullah. Karena dengan berkeluarga, hidup akan lebih tenang dan tentram. Masing-masing anggota keluarga mempunyai kewajiban dan hak. Seorang laki-laki yang telah menikah adalah pemimpin bagi keluarganya. Ia wajib bekerja dan menafkahi istri dan anak-anaknya. Ia juga harus bertanggung jawab atas perilaku dan moral istri serta anak-anaknya itu.
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (QS. Thaahaa [20] : 132).
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahriim [66] : 6).
Sedangkan seorang perempuan sebagai istri, ia wajib menjaga diri dan mematuhi suaminya.
“Katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS. An-Nuur [24] : 31).
Ayah dan ibu adalah dua orang yang harus paling bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Allah telah memilih mereka berdua agar menyayangi, menjaga, serta mendidik putra-putrinya. Adalah tugas keduanya untuk mengingatkan bahwa kehidupan di dunia adalah cobaan. Bahwa tempat kembali kelak adalah akhirat.
Alkisah terjadi percakapan di alam ruh sebagai berikut :
Bayi : “Ya Allah, kenapa aku harus meninggalkan surga yang begitu indah ini?”
Allah SWT : “Karena aku ingin mengujimu.“
Bayi : “Tapi siapa yang kelak akan menjaga dan menyayangiku seperti Kau menjaga dan menyayangiku?”
Allah SWT : “Aku akan mengirimkanmu malaikat yang akan menjaga dan menyayangimu.”
Bayi : “Namun bagaimana bila aku rindu padaMu?” rengek si bayi dengan nada penuh keberatan.
Allah SWT : “Malaikatmu itulah yang akan mengajarimu bagaimana kau dapat menghubungiku.”
Bayi : “Kalo begitu, katakanlah padaku, siapa malaikat yang akan menjagaku,menyayangiku, dan mengajariku ketika aku rindu padaMu, Ya Allah?”
Allah SWT : “Malaikat itu adalah AYAH dan IBUmu.”
Jadi, sungguh berat tugas kedua orangtua itu. Di tangan merekalah nasib dan masa depan mereka berada.
Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan suci dan Islam, yang menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi adalah orangtuanya.” (HR. Al-Bukhari).
Karenanya, wajib bagi seorang anak agar menyayangi keduanya, terutama ibu yang telah dengan susah payah mengandung, melahirkan, dan menyusui anak-anaknya. Itu sebabnya Allah SWT memerintah seorang anak agar menghargai dan menghormati ibu tiga kali lebih besar dari ayahnya.
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kupergauli dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?” tanya laki-laki itu. “Ibumu,” jawab beliau. ”Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Ibumu," jawab beliau. “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu,” jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu.” (QS. Luqman [31] : 14).
Al-Qur'an menyebutkan manusia yang tidak mau menjalankan perintah Allah bagaikan seekor binatang, bahkan lebih buruk lagi. Bagi mereka tidak ada jalan lain kecuali neraka jahanam.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-Araf [7] : 179).
Kemudian kelak ketika ajal menjelang, ketika diperlihatkan neraka sebagai tempat mereka kembali, mereka amat menyesal dan ingin diberi kesempatan sekali lagi agar dapat memperbaiki cara hidup mereka. Namun semuanya telah terlambat.
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata : “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan." Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu’minuun [23] : 99-100).
Seperti kita ketahui, umur manusia rata-rata pada zaman sekarang tidak lebih dari 100 tahun bahkan 80 tahun pun jarang. Setelah itu kita akan dikembalikan kepada Sang Pemilik yang telah menciptakan kita dan kita harus mempertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat di dunia. Kemudian setelah itu, kita akan memasuki babak baru, yaitu babak kehidupan setelah mati, kehidupan akhirat yang kekal, yaitu surga atau neraka. Maka alangkah meruginya manusia yang hanya sibuk memikirkan kehidupan dunianya tanpa mempersiapkan kehidupan selanjutnya.
http://vienmuhadi.wordpress.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.


