Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Urgensi Menjaga Silaturrahim
11 November 2009 pukul 17:15 WIB
Hubungan antara Piano dan Al-Qur'an
7 November 2009 pukul 20:00 WIB
Perempuan-Perempuan Tangguh
29 Oktober 2009 pukul 20:50 WIB
Sara Murray : Berawal dari Brosur
15 Oktober 2009 pukul 21:41 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 26 November 2009 pukul 19:20 WIB

Perempuan dan Lelaki dalam Pandangan Islam, Mitra atau Rival?

Penulis : Sylvia Nurhadi

Dewasa ini, dapat dilihat secara kasat mata bahwa kaum perempuan dari semua lapisan, baik formal maupun informal, ke luar rumah untuk bekerja. Pekerjaan mereka sangat bervariasi, mulai hanya sebagai PRT (Pembantu Rumah Tangga), buruh pabrik, karyawan perusahaan, artis, staf pengajar, konsultan, perawat, dokter, hingga staf ahli bahkan jabatan setingkat menteri. Alasan mereka bekerja pun beraneka ragam. Ada yang memang karena kebutuhan hidup, ada yang sekedar untuk menambah pendapatan suami/keluarga, ada yang untuk mengisi waktu luang, ada yang dengan tujuan mengamalkan ilmu, dan ada pula yang demi mengejar karir dan cita-cita. Tetapi ada juga yang sekedar menuruti kemauan suami.

Namun di sisi lain, pengangguran pun merebak di mana-mana. Penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari adanya kasus PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), lapangan kerja yang terbatas, rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya keterampilan atau pengalaman, hingga sekedar alasan kemalasan semata! Padahal normalnya laki-laki dalam Islam seharusnya bertanggung jawab atas ekonomi keluarganya. Bahkan wajib hukumnya. Jadi sungguh berdosa besar laki-laki yang tidak mau menafkahi keluarganya kecuali dengan alasan cacat atau sakit yang tidak memungkinkannya bekerja.

Dari sini terkesan bahwa telah terjadi persaingan tersembunyi antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan pekerjaan. Fenomena inilah yang mengusik hati penulis untuk mencoba mencari jawabnya.

Allah SWT menciptakan manusia laki-laki dan perempuan sebagai pasangan. Sang Pencipta menghendaki agar mereka hidup berdampingan, saling membantu, saling melengkapi, dan saling mengisi. Ini adalah bagian dari aturan/sistem Allah, sebuah fitrah. Perumpamaannya seperti tangan kanan dengan tangan kiri atau kaki kanan dengan kaki kiri. Atau pembagian tugas antara jantung, paru-paru, ginjal, dan lain-lain. Masing-masing memiliki tugas yang khas yang tidak mungkin saling menggantikan. Begitu juga halnya mengapa Ia menciptakan matahari dan bulan yang bekerja sama dalam sebuah tatanan yang rapi dan teratur. Tidak mungkin keduanya saling iri atas tugas masing-masing. Matahari tidak mungkin mendahului bulan, apalagi menggantikan fungsinya. Demikian pula sebaliknya.

Begitu pun alam semesta dan segala isinya. Bila aturan dan sistem ini dilanggar, maka akan terjadi kerusakan yang dampaknya bisa jadi baru terasa puluhan tahun kemudian. Inilah yang sedang terjadi di bumi kita tercinta. Exploitasi alam di antaranya penggalian barang-barang tambang, pengerukkan pasir sungai dan pantai secara sembarangan memberikan dampak kerusakan yang luar biasa. Lingkungan dan ekosistem alam menjadi terganggu. Para ilmuwan sepakat bahwa hal ini adalah salah satu penyebab terjadinya pemanasan global dewasa ini.

Menurut pendapat penulis, persaingan mencari lapangan pekerjaan di antara laki-laki dan perempuan yang tejadi belakangan ini juga berpotensi merusak keseimbangan sistem alam/fitrah manusia. Sungguh tidak masuk akal, kedua jenis kelamin berlawanan ini berkutat pada satu bidang yang sama, yaitu mencari nafkah. Sementara bidang lain yang bisa dikatakan bahkan jauh lebih penting justru diterbengkalaikan. Perempuan bagaimana pun juga adalah kaum ibu yang sangat diharapkan keberadaannya sebagai pendidik awal anak, sebagai pewaris generasi. Ini adalah sebuah kehormatan yang tidak seharusnya disia-siakan.

Jepang dikenal sebagai salah satu negara termaju di dunia. Tahukah rahasia mereka? Ternyata bangsa ini adalah bangsa yang sangat menghargai kaum ibu. Mereka menganggap bahwa keberhasilan bangsa mereka disebabkan peran ibu dalam mendidik anaknya. Peran ganda seorang perempuan sebagai seorang ibu, terutama bagi anaknya yang masih balita, sekaligus sebagai perempuan pekerja dianggap ‘chuto hanpa’, yaitu peran tanggung yang tidak populer. Mereka lebih senang memilih menjadi ibu atau tidak sama sekali!

Jadi ibu adalah pilihan profesional. Hal ini didukung secara resmi oleh pemerintah. Oleh karenanya, hak dan kewajiban masing-masing dilindungi oleh undang-undang. Dan demi mendukung kesuksesan masing-masing karir yang dipilih, pemerintah menyediakan sarana dan prasarana yang sama besarnya. Perempuan yang tidak/belum menikah ataupun ibu yang tidak memiliki anak namun mempunyai minat, kepandaian, dan kemampuan untuk berprestasi besar, mereka diberi kesempatan untuk menduduki jabatan tinggi. Sementara perempuan yang mempunyai anak dan memilih menjadi ‘ibu’, pemerintah menyediakan fasilitas yang baik agar mereka dapat mendidik anak-anaknya tanpa khawatir kekurangan materi. Tak heran jika anak-anak di Jepang , laki-laki maupun perempuan, sangat menyayangi dan mengagumi ibu-ibu mereka. Para ibu dianggap sebagai jelmaan Dewi Amaterasu yang dipuja oleh bangsa Jepang.

”Barangsiapa yang mempunyai dua saudara perempuan atau anak perempuan kemudian ia berbuat baik kepada mereka selama bersamanya, maka aku dan dia masuk surga seperti ini," sambil memperagakan kedua jari tangannya. (HR. Al-Khathib).

Dengan kata lain, imbalan mendidik kaum perempuan, di dunia adalah kunci keberhasilan sebuah bangsa, sedangkan di akhirat adalah surga. Karena dengan mendidik anak perempuan sejak dini dengan baik, berarti kita telah mempersiapkan calon ibu/calon pendidik yang akan mendidik anaknya dengan baik pula. Anak adalah generasi penerus dan pewaris bangsa serta agama. Di tangan para ibulah terutama bergantung akhlak, moral, serta perilaku mereka. Oleh karenanya wajib bagi perempuan untuk menjadikan dirinya pandai, terdidik, serta ketauladanan bagi anak-anaknya.

Simak surat RA Kartini yang ditulis pada tahun 1902 berikut, ”Kami di sini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan karena kami, oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan - hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh alam sendiri ke dalam tangannya, menjadi ibu - pendidik manusia yang pertama-tama." (4 Oktober 1902 Kepada Tuan Anton dan Nyonya. Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armijn Pane. PN Balai Pustaka 1985).

Alllah SWT menciptakan perempuan dengan ciri khas rahim yang dimilikinya. Di dalam rahim inilah tumbuh awal kehidupan janin. Rahim yang berarti kasih sayang mengisyaratkan bahwa kaum perempuan dengan kasih sayang keibuannya adalah orang yang paling tepat dan pas untuk mendidik serta merawat anak-anaknya.

Namun demikian, ini tidak berarti Islam melarang perempuan untuk beraktifitas di luar rumah. Bahkan setelah perempuan dapat menjalankan kewajiban dan memprioritaskan dirinya sebagai istri dan ibu, ia wajib berdakwah/mengajak lingkungannya menuju kebaikan. Ia wajib mengajarkan ilmu yang dimilikinya dengan tujuan agar terbentuk masyarakat sosial yang beradab, santun, bersih, dan sehat. Ia diizinkan meninggalkan rumah selama keadaan aman, dengan syarat ia menutup aurat, dapat menjaga dirinya dengan baik, serta menjauhkan diri dari fitnah.

Termasuk juga bekerja mencari nafkah dalam rangka membantu suami/keluarga bila suami memang tidak dapat mencukupi kebutuhan pokok keluarga dan mengizinkannya. Maka jika semua ini dikerjakan dalam rangka ketakwaan dengan tujuan agar seluruh anggota keluarga dapat dengan tenang menjalankan kewajibannya untuk mencari ridha’ Allah SWT, amal ibadah tersebut akan dihitung sebagai sedekah istri/anak perempuan bagi suami dan keluarganya.

Penulis berharap, semoga tulisan ini dapat menggugah dan menjadi bahan renungan bagi kaum perempuan dan pemerintah khususnya. Karena hal ini ternyata sangat relevan dalam mewujudkan cita-cita Ibu Kartini dan sejalan pula dengan UU Pernikahan RI 1974, UU Perlindungan Anak 2002, bahkan sejalan dengan ajaran Islam serta seirama dengan hati nurani kaum ibu Indonesia pada umumnya.

Wallahu a'lam.

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Paku dan Amarah
Selasa, pukul 14:20 WIB
Jangan Lagi-Lagi!
Selasa, pukul 09:00 WIB
Seseorang yang Menyeduh Namamu
Jum'at, pukul 13:13 WIB
Hamzah | Wiraswasta
KotaSantri.com, sejukkan hati!!! Peace ah. SaLam ukhuwwah wat hamba Allah se-alam dunia.
KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2971 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels