HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://tofan.kotasantri.com
Bergabung
13 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tegal - Jawa Tengah
Pekerjaan
-
Tulisan Salman Lainnya
Palestino : Esto Es Para Ti
24 Januari 2010 pukul 18:44 WIB
Ambang Pintu
26 Juli 2009 pukul 18:00 WIB
Sepotong Matahari dan Awan untuk Ibu
21 Juni 2009 pukul 18:30 WIB
Konvensional Man
17 Mei 2009 pukul 17:25 WIB
Gadis Berkerudung Ungu
12 April 2009 pukul 17:44 WIB
Pelangi
Pelangi » Pernik

Ahad, 28 Februari 2010 pukul 17:00 WIB

Anak Perempuanku Belum Pulang

Penulis : Salman Rafan Ghazi

Seharusnya minggu pagi seperti ini adalah waktu yang paling menyenangkan untuk minum secangkir kopi hitam dengan sedikit gula ditemani setangkup roti tawar isi selai kacang. Sambil duduk membaca koran pagi di teras rumah dan menikmati hangatnya cahaya matahari menyelinap di balik rimbun daun-daun mangga.

Siapa tahu saja ada berita menarik tentang sepasang artis suami istri yang rujuk kembali. Atau kabar seputar perkembangan kasus artis dan pegawainya yang berdamai. Atau juga berita-berita hiburan lain khas koran hari minggu, yang tentu saja bisa menghibur dan mengisi waktu libur pagiku.

Aku melangkahkan kaki mendekati pagar dan mengambil koran yang dilemparkan loper tadi. Aku memungutnya, lalu memisahkan dua bendel koran itu. Satu bendel berisi berita hiburan aku letakkan di atas meja. Satu bendel lagi berisi seputaran peristiwa kemarin kubaca.

Biasa saja. Tidak ada yang menarik. Di sana terpampang headline jama'ah haji negeri ini yang terpaksa terlambat pulang ke tanah air.

“Hmm.. Biasa saja. Hampir terulang setiap tahunnya. Untung catering haji tahun ini baik-baik saja,” mulutku tiba-tiba menggumam, mengomentari berita itu.

Mataku masih menelusuri halaman pertama. Membaca kata demi kata. Ada berita tentang banjir yang selama hampir sepekan ini melumpuhkan Kota-Kota di belahan timur pulau terpadat di negeri ini dan opini dari pakar ekonomi tentang harga bensin dan solar yang seharusnya masih bisa diturunkan lagi.

“Yang ini juga biasa,” kataku lagi.

Aku membaliknya. Lalu membaca berita di halaman kedua, ketiga, dan seterusnya sampai halaman terkahir yang menurutku menarik. Sambil sesekali meneguk kopi. Nikmat.

Sedikit sekali ternyata berita yang kubaca. Entahlah, mungkin seleraku membaca di hari minggu bukan untuk berita-berita seperti itu, tapi berita hiburan.

Mulutku menggigit roti tawar selai kacang setelah beberapa tegukan kopi membasahi kerongkonganku. Kuambil satu bendel koran berisi berita hiburan. Aku langsung tertawa pelan saat membaca sebuah berita di halaman pertama.

Dugaanku tidak meleset. Ada perkembangan kasus artis dan pegawainya itu plus foto sang artis yang sedang melambaikan tangan ke arah wartawan di sana. Dasar. Umpatku dalam hati. Dasar artis, kena musibah saja masih bisa dadah-dadah.

Selebihnya berita tentang fesyen, resensi film, resensi buku, resep masakan, cerpen, dan sajak.

Anak Perempuanku Belum Pulang *

Aku menatap judul sajak di atas. Lekat sekali seakan tak ingin lepas. Sejenak, lalu membacanya.

Sampai pada bait terakhir, ada hujan yang tiba-tiba menderas dalam ingatanku. Ada sesuatu yang menusuk-nusuk hatiku. Aku teringat anak perempuanku. Aku rindu anak perempuanku.

Anak perempuan dan menantuku belum pulang:
Masih di batas ketakutan dan keberanian!

***

Sepuluh tahun yang lalu, ia pergi ke Kota. Pergi ikut suaminya merantau ke Kota. Mencoba mencari rezeki di sana.

“Mencari pekerjaan di sini sulit, Ayah. Izinkan kami merantau ke Kota. Paling hanya sebentar. Setelah itu kami janji kami akan pulang,” anak perempuanku merajuk sambil memijat-mijat lengan tanganku.

Tak tega sebenarnya aku melepas kepergian mereka. Mereka adalah pasangan muda. Baru satu tahun melangsungkan pernikahan. Lagipula mereka tidak tahu apa-apa di Kota. Tidak ada sanak saudara di sana. Namun, melihat keinginan mereka yang begitu besar, mau tak mau aku pun melepasnya.

Memang, kata orang, mencari pekerjaan di Kota gampang. Mau pekerjaan seperti apa, semua ada di Kota. Tapi bukan itu masalahnya. Satu tahun sebelum kepergian anak perempuanku, banyak orang hilang : penculikan.

Dan sampai hari keberangkatan anak perempuanku ke Kota, penculikan itu masih terjadi. Aku takut jika anak perempuanku juga menantuku nanti menjadi korban penculikan itu. Mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi menurutku tidak, wajar saja sebagai ayah aku mengkhawatirkan mereka, bukan?

Tapi, kembali anak perempuanku merajuk. Ia beringsut ke dapur sambil meracau, memberikan bermacam alasan. Katanya banyak orang merantau ke Kota dan sepulangnya dari sana mereka menjadi orang berhasil. Banyak juga yang menjadi terkenal setelah lama di Kota.

“Lihat saja Sardi. Pulang dari Kota bisa beli motor dan rumah,” ujarnya seraya meletakkan secangkir kopi di atas meja. “Lagipula kami berdua punya ijazah sarjana, Ayah. Pasti akan lebih mudah mencari kerja.”

“Bukan itu masalahnya.” Aku meneguk kopi buatan anak perempuanku tadi. “Ayah hanya takut kamu diculik.” Aku mulai berlebihan lagi. Dan aku masih menganggapnya wajar.

“Diculik? Ah, Ayah ada-ada saja. Percayalah pada kami, Ayah. Kami bisa menjaga diri.”

Aku menyerah. Kulepas juga mereka ke Kota.

***

Seminggu sesampainya di Kota, mereka –anak perempuan dan menantuku– mengirimkan surat kepadaku. Kata mereka dalam surat itu, mereka sudah mendapatkan tempat tinggal. Sebuah rumah kontrakan yang cukup murah. Menantuku juga sudah mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai bank –meski masih training. Anak perempuanku masih melamar pekerjaan di beberapa perusahaan. Mereka berjanji akan mengirimi aku surat dua pekan sekali.

Seminggu setelah kepergian mereka, berita tentang orang hilang semakin banyak di Kota.

Dua pekan selanjutnya, surat dari anak perempuanku datang lagi. Aku bersyukur. Mereka baik-baik saja di sana. Ia kini telah bekerja sebagai staf promosi di sebuah mal di Kota.

Bersamaan dengan surat itu, suasana Kota semakin tidak karuan. Kata berita, banyak penjarahan di mana-mana. Perampokan merajalela. Pemerkosaan meningkat pesat.

Dua pekan berikutnya, surat dari anak perempuanku datang kembali. Ia menyuruhku tidak serta-merta percaya berita-berita di televisi. Ia dan suaminya baik-baik saja. Mereka mengabarkan sekarang telah pindah rumah kontrakan. Katanya supaya lebih dekat dengan tempat kerja.

Aku mulai cemas. Sudah satu bulan lebih aku tidak menerima surat dari anak perempuanku ataupun suaminya.

Aku ingin menyusul mereka ke Kota. Tapi aku takut kalau-kalau aku menjadi korban penculikan juga (aku mulai berlebihan lagi). lalu bagaimana dengan anak perempuanku. Ah, aku bingung.

***

Anak Perempuanku Belum Pulang.

Kubaca lagi puisi di atas. Bait demi bait. Kata demi kata.

Ah, andai saja anak perempuanku tahu jika kota yang dulu ditinggalkannya sekarang sudah berubah menjadi Kota. Dia tak perlu merantau ke Kota.

** Terinspirasi dari puisi Selma W. Hayati : Anak Perempuanku Belum Pulang

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Salman Rafan Ghazi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Paku dan Amarah
Selasa, pukul 14:20 WIB
Jangan Lagi-Lagi!
Selasa, pukul 09:00 WIB
Seseorang yang Menyeduh Namamu
Kemarin pukul 13:13 WIB
Prof | Cloth Design
Moga KotaSantri.com bisa jadi situs Jejaring yang Populer n meng-Global! Amin!
KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.3004 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels