HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
Alamat Akun
http://suswoyo.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Purwokerto - Jawa Tengah
Pekerjaan
Swasta
Sus Woyo adalah mantan TKI di Brunei Darussalam. Sekarang tinggal di Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah.
Tulisan Sus Lainnya
Amanah untuk Rakyat
5 Maret 2009 pukul 17:53 WIB
Serempak dalam Perbedaan
2 Maret 2009 pukul 16:03 WIB
Keputusan Terbaik
21 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 12 Maret 2009 pukul 16:09 WIB

Dzikir Cinta Sang Buruh Migran

Penulis : Sus Woyo

Laki-laki itu sekarang sudah ada di kampungnya, di tanah kelahirannya. Ia telah kembali berkumpul dengan isteri dan anaknya, setelah dua tahun lebih ia tinggal merantau di negeri seberang.

Kalau melihat dari sisi ekonomi, ia bukanlah sosok buruh migran yang sukses. Ketika banyak temannya yang sudah bikin rumah bagus, mempunyai modal untuk usaha, punya kendaraan minimal sepeda motor, ia tak termasuk ke dalamnya. Pendek kata, ia tak berhasil merubah kondisi ekonomi keluarganya.

Malu kepada tetangga di kampungnya? Atau merasa ada beban mental yang mendalam karena tak sukses sebagai buruh di luar negeri? Atau ia putus asa dengan semua cita-citanya yang selalu kandas?

Sebagai manusia biasa, ia sempat juga mempunyai rasa seperti itu. Malu dan beban mental sempat menghinggapi kepalanya. Namun, semua itu segera terpatahkan ketika mengingat kembali penderitaannya bekerja di luar negeri.

Banyak sekali hikmah yang ia dapat dari hasil pergulatannya selama hidup bersama majikan yang keras kepala. Hatinya tertempa dengan begitu banyak masalah, namun menghasilkan sebuah pemikiran dan perenungan yang sangat dalam.

Lelahnya mengurus administratif ketika mau berangkat dengan PJTKI daerahnya, kondisi pekerjaan yang sama sekali tak mematuhi aturan buruh Internasional, sikap majikan yang sangat sering tidak memanusiakan pekerja, gaji tak dibayarkan semua saat kontraknya sudah habis, adalah 'jamu' kehidupan yang harus ia telan.

Ia yang semua cita-citanya kandas, sering berujung menjadi sebuah episode kehidupan yang sangat menyakitkan. Usahanya ke luar negeri pun nyaris hanya pulang nama saja. Dua tahun lebih di negeri Sultan Bolkiah, tak ada perubahan ekonomi yang signifikan.

Laki-laki itu sekarang mencoba bangkit lagi. Ia tak ada niat untuk kembali bekerja di luar negeri. Sisa uang yang masih ada dalam tabungannya, segera digunakan untuk membikin sebuah kamar dan dapur untuk tempat tinggal. Ia tak mau lagi berlama-lama hidup serumah dengan mertua, karena sudah mempunyai anak.

Pengalaman menghadapi hidup susah di negeri orang, ia praktekan di negeri sendiri. Setiap kali mendapat kesusahan, ia hanya mengadu kepada Sang Kuasa. Di tanah air, sekarang ia betul-betul pasrah padaNya. Setiap saat ia berusaha mengingatNya. Sebab ia merasa bahwa ia bisa bertahan sampai masa satu kontrak lebih di Brunei, bukan karena apa-apa, tapi karena dzikir cintanya kepada Allah.

Laki-laki itu sekarang makin menyadari tentang dirinya. Ia makin sadar, bahwa Allah-lah pemberi rizki yang sejati. Sekarang, ia tak lagi menyia-nyiakan waktu. Ia mengerjakan apa saja yang merasa bisa ia kerjakan. Sekarang ia tak pernah menganggur, walaupun secara formal ia tidak bekerja layaknya orang lain.

Ia kembali mengajar anak-anak di lingkungannya, walaupun tak ada yang menggaji. Ia juga menjadi fasilitator pendidikan agama bagi orang-orang tua di lingkungannya, walaupun tak ada satu mahluk pun yang memberi imbalan.

Sekarang ia super sibuk, ia tak mau menjadi pengangguran. Ia sering mengutip kalimat seorang ulama, bahwa setiap kebaikan adalah amrullah, perintahnya. Kebaikan tak harus sesuatu yang dilihat orang. Menyingkirkan duri di tengah jalan, meminjami payung kepada mereka yang kehujanan, menolong anak kucing yang masuk got, adalah kebaikan juga. Dan ternyata, kebaikan selalu ada di sekelilingnya.

Dulu, ia pernah bercita-cita ingin jadi wartawan, tapi kandas. Dan hasrat jurnalistiknya sekarang bisa tersalurkan dengan seringnya ia menulis untuk beberapa media.

Dulu, ia punya cita-cita jadi seorang guru atau dosen, tapi juga tak kesampaian. Sekarang, kesenangannya dengan dunia pendidikan, ia salurkan dengan mengajar anak di sore hari, dan orang-orang tua di malam hari dan pagi hari selesai shalat subuh.

Ia makin tenang menjalani hidup, walaupun pas-pasan. Ia juga makin menyadari bahwa ternyata rizki tak pernah berhenti menyapanya. Ada saja rizki yang diberikan Allah lewat jalan yang tak pernah disangkanya.

Ketika rumah mungilnya bocor karena belum mampu membeli seng, ternyata ada yang membantunya membelikan seng. Ketika ia sangat butuh motor untuk aktifitasnya yang makin padat, ternyata ada juga yang mau meminjami uang untuk membeli motor.

Laki-laki itu sekarang terus belajar meningkatkan kedekatannya kepada Sang Pencipta. Ia terus memompa semangatnya untuk mencintai Allah. Pengalaman pahitnya sebagai buruh migran, diubahnya menjadi dzikir cintanya kepada Yang Mahaesa.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Paku dan Amarah
Selasa, pukul 14:20 WIB
Jangan Lagi-Lagi!
Selasa, pukul 09:00 WIB
Seseorang yang Menyeduh Namamu
Kemarin pukul 13:13 WIB
Riesna | I'm Real Jobless
KotaSantri.com adalah situs keren yang memungkinkan kamu mengetahui dan mempelajari ilmu agama Islam lebih jauh, mudah, dan mengena. Di sini juga kamu bisa saling bersilaturahmi dengan para santri, melalui email dan chatting room yang tak kalah keren!
KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2477 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels