|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
|
|
ferryhadary |



Senin, 4 Mei 2009 pukul 16:00 WIB
Penulis : Ferry Hadary
Siapakah yang mengenal jati dirinya sebelum ini? Tak ada. Atau mungkin juga sedikit sekali. Namun, Fanny tiba-tiba muncul dengan sebuah pengakuan. Lantas sekejab sosoknya menjadi begitu terkenal. Seketika itu pula apa yang terucap, tingkah laku bahkan apa saja dari dirinya menjadi incaran wartawan.
Masa lalunya pun kemudian menjadi sangat penting untuk dibeberkan. Memang, kehidupan malam pernah diakrabinya di sebuah kafe dangdut di kawasan Jakarta Selatan. Entah apa pula yang sebelumnya dikerjakan. Namun yang jelas ia pernah melakukan sebuah perbuatan terlarang.
Begitulah, setelah lima tahun Fanny kemudian kembali dengan sebuah pengakuan. Ia pernah salah. Sebagaimana semua manusia di muka bumi ini juga pasti pernah mengalaminya. Aib masa lalunya terkuak. Itu tentu pilihan sulit bagi siapa saja. Seketika banyak orang terperangah. Sementara tak urung ada pula yang gusar, kemudian membantah.
Tragis. Ternyata nasib seperti belum berpihak kepadanya. Bola panas yang digulirkan tak disangka berbalik arah. Padahal yang diinginkan hanyalah sekadar pengakuan juga. Itu pun bukan untuk kepentingan dirinya. Tetapi bagi seorang bocah lima tahunan yang selalu bertanya tentang seorang ayah yang sama sekali tak pernah dipilihnya.
Memang, sebuah pengakuan tentu harus dibarengi keberanian. Bahkan jiwa harus pula besar untuk mengakui itu adalah sebuah kesalahan. Manis atau pahit adalah akibat yang mesti ditanggungnya. Tak heran, tak semua orang mampu melakukannya.
Namun...
Bagi wanita muda itu kejujuran dan kebenaran yang coba diusung ternyata memang tak ada artinya. Ia kemudian mundur dengan pernyataan maaf. Bukan! Bukan kalah. Ia hanya mencoba pasrah walau dengan sebuah keyakinan. Niscaya kelak akan ada sebuah pengadilan.
Saat ini, wanita muda itu mungkin tak memperoleh hasil apa-apa kecuali luka yang semakin menganga. Namun, sesungguhnya ada sesuatu hal terpenting dari sebuah makna perjuangan, "Kelak Excel besar, dia akan tahu sebenarnya. Seberapa besar perjuangan seorang ibu untuk anaknya," katanya.
Benar! Ia mungkin tak memperoleh hasil dari perjuangan untuk kebahagiaan anaknya. Tetapi Fanny telah berusaha melakukan tugasnya sebagai seorang ibu, berjuang. Itu saja, dan berapa pun besarnya.
Aaah...
Sebuah pengakuan memang berat dilakukan. Namun Fanny telah mampu melakukannya karena ia adalah pejuang. Sementara, siapa pun laki-laki itu tak lain hanyalah seorang pengecut bahkan pecundang.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.


