QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://suswoyo.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Purwokerto - Jawa Tengah
Pekerjaan
Swasta
Sus Woyo adalah mantan TKI di Brunei Darussalam. Sekarang tinggal di Baturraden, Purwokerto, Jawa Tengah.
Tulisan Sus Lainnya
Pribadi Sukses
11 Juni 2009 pukul 15:30 WIB
Pemabuk Cinta
4 Juni 2009 pukul 16:09 WIB
Ayat-Ayat Cinta
14 Mei 2009 pukul 16:00 WIB
Ada Apa dengan Mertua?
25 April 2009 pukul 17:20 WIB
Pesan Tauhid dari Jatinegara
23 April 2009 pukul 16:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 18 Juni 2009 pukul 15:30 WIB

Tak selamanya, Hujan Emas di Negeri Orang

Penulis : Sus Woyo

Kisah memilukan orang-orang kita di luar negeri, memang tak kan pernah berahir, selama arus pengiriman TKI ke luar negeri terus berlangsung. Drama air mata para TKW, akan terus ada jika pembelaan kepada mereka belum juga maksimal.

Siti Hajar, Nurul, dan sampai tak bisa lagi dihitung dengan jari. Bahkan model cantik Manohara Odelia Pinot, yang jadi permaisuri pangeran Kelantan pun ikut menjadi korban kekerasan orang-orang luar negeri. Siapa yang salah?

Kalau boleh menengok ke belakang sedikit, saat krisis ekonomi 1997 menerpa negeri ini, maka banyak sekali perubahan-perubahan yang menjadikan sebagian masyarakat kita kehilangan, atau minimal berkurangnya pemasukan rumah tangga.

Awalnya adalah ketakberdayaan kami, orang-orang kecil dalam menghadapi kondisi ekonomi negeri ini yang makin terpuruk pasca lengsernya Soeharto. Gerakan reformasi yang gegap gempita, nyaris tak bisa ditunggu hasilnya oleh kami, orang-orang kecil. Dan dampaknya terhadap roda perekonomian rakyat, sangatlah menyusahkan.

Reformasi, yang akhirnya oleh sebagian orang diplesetkan menjadi ‘repotnasi’, memang betul-betul menjadi kenyataan bagi wong cilik. Artinya, betapa susahnya kami yang hanya pemodal kecil membangun usaha. Jangankan keuntungan yang signifikan, kembali modal setelah menggelar usaha saja, merupakan prestasi yang luar biasa. Pendek kata, untuk mencari sesuap nasi saja, kami sangat susah.

Pernyataan seperti itu, bukanlah berarti bahwa kami tak mendukung reformasi, bukan pula karena pendukung fanatik Orde Baru, namun kenyataan di lapangan sangat jauh dari apa yang kita semua harapkan. Dan itu berlangsung tak hanya setahun dua tahun, tapi ternyata puluhan tahun.

Terus terang, banyak usaha menengah dan kecil yang hancur. Banyak juga di antara kami yang hutangnya makin menumpuk, sementara kebutuhan harian tak bisa dihindari lagi. Mencari pekerjaan susah, sebab kala itu perusahaan-perusahaan berskala besar pun mem-PHK para karyawannya. Bank-bank juga banyak yang dilikuidasi.

Lantas, jalan keluar seperti apakah yang harus ditempuh untuk mempertahankan agar dapur tetap mengepul? Solusi macam apakah yang bisa dikerjakan setelah berbagai usaha selalu gagal?

Banyak di antara anak negeri ini yang mencoba mencari peruntungan nasib ke luar negeri, mengikuti jejak warga Indonesia lain yang sudah berangkat terlebih dahulu. Mereka sukses mengangkat dirinya, keluarga, dan tentu juga memberi masukan besar bagi devisa negara. Maka, tak sedikit di antara kita yang bergerilya mencari peluang kerja ke luar negeri.

Brunei, juga menjadi pilihan banyak calon TKI, disamping banyak juga yang mencoba mempelajari peluang di Malaysia dan Arab Saudi lewat teman-teman dan kantor tenaga kerja. Disamping itu, biaya keberangkatan ke sana juga tidak terlalu besar dibanding dengan ke Taiwan atau Korea. Ada yang memilih Brunei Darussalam ataupun Malaysia dengan alasan karena masih serumpun dengan negeri tercinta ini, bahasa yang dipakai dan agama yang mereka anut juga sama. Dengan demikian, keakraban dengan majikan, persaudaraan antar individu yang lain bangsa bisa terjalin lebih erat.

Hampir semua orang yang belum pernah bekerja di luar negeri membayangkan, bahwa bekerja di luar negeri itu sangat indah. Terbukti, banyak juga kawan-kawan kita yang sukses. Namun, ada juga yang tak seindah dan sebaik teman-teman yang lain. Betul juga kata pepatah; Rambut sama hitam, tapi nasib kita berbeda.

Kisah tentang kesuksesan seorang buruh migran, sering kita baca di media dan kita saksikan dengan mata kepala sendiri. Bisa mengangkat ekonomi pribadi, keluarga, menyekolahkan adik-adiknya, membeli rumah, sawah, punya modal, adalah prestasi mereka. Sebaliknya, cerita tentang kegagalan seorang buruh migran, juga bukanlah kisah bohong apalagi dongeng pengantar tidur. Terlunta-lunta di negeri orang, diperlakukan tak manusiawi oleh majikan, dibodohkan, dicaci maki, adalah pengalaman yang bukan isapan jempol belaka.

Masih banyak teman-teman kita para TKW yang bernasib kurang baik seperti Siti Hajar. Siti masih beruntung, karena upaya hukumnya didukung banyak pihak, termasuk pemimpin negeri ini. Lantas bagaimana dengan Sit-Siti yang lain, yang pulang ke tanah air dengan uraian air mata, karena teraniaya dan gaji tak dibayar, dan itu tak terekspos media?

Semakin hari, ternyata fenomena keberangkatan saudara kita yang bekerja ke luar negeri, makin banyak saja. Bukan berarti karena di negeri seberang selalu hujan emas, sementara di negeri sendiri hujan batu, namun karena negeri belahan surga ini belum mampu menjadi surga bagi rakyatnya.

Cerita tentang sukses mereka, tentu juga banyak. Namun sebaliknya, kisah menyedihkan tentang mereka, juga tak mungkin bisa ditutup-tutupi, biar pun banyak dari pihak PJTKI yang berang jika melihat pemberitaan tentang kesedihan di negeri orang.

Ini semua, tak bermaksud menjadikan hati kecil saudara-saudara kita yang mau bekerja di luar negeri, melainkan ingin mencoba berbagi rasa dan cerita, khususnya berbagai persoalan yang menyangkut dunia per-TKI-an dan buruh migran.

Harapan kita semua, mudah-mudahan kelak, negeri kita yang kaya raya ini, tak akan lagi mengirimkan orang-orang ke luar negeri, karena negeri sendiri sudah mampu menyediakan lapangan kerja untuk rakyatnya.

Atau jika masih mengirim pun, mudah-mudahan sudah tidak lagi tenaga tanpa ‘skill’, melainkan tenaga ahli yang mau mentransfer teknologi kepada mereka. Sehingga, martabat orang kita di luar negeri akan terangkat dan tak akan ada lagi mendengar ada orang-orang Indonesia yang diperlakukan tidak manusiawi oleh segelintir para majikan di luar negeri.

Perjuangan individu dan kelompok untuk menjadi sosok-sosok yang takwa, figur-figur yang mengikuti rel Sang Kuasa, akan menjadi solusi jitu menjadikan negeri kita ini, negeri yang thayyibatun wa rabbun ghafuur, negeri yang baik, yang senantiasa disejahterakan dan diampuni oleh Allah SWT. Amin!

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Paku dan Amarah
Selasa, pukul 14:20 WIB
Jangan Lagi-Lagi!
Selasa, pukul 09:00 WIB
Seseorang yang Menyeduh Namamu
Jum'at, pukul 13:13 WIB
Hamzah | Wiraswasta
KotaSantri.com, sejukkan hati!!! Peace ah. SaLam ukhuwwah wat hamba Allah se-alam dunia.
KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2503 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels