|
QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
|





Rabu, 23 Desember 2009 pukul 15:45 WIB
Penulis : Sus Woyo
Sudah lama saya bekerja di bawah aturan seorang majikan. Sudah selayaknya, sang majikan sangat paham kinerja kami selama ini. Atau bahkan seharusnya dia bersifat lebih arif, bijaksana, dan kekeluargaan. Namun semua itu belum saya temukan.
Saya dan kawan-kawan saya sering heran. Kenapa ada sosok manusia seperti ini? Lebih heran lagi, kenapa hajinya sama sekali tidak membekas. Tercermin dari wataknya yang tidak pernah lemah lembut. Kenapa ayat-ayat Al-Qur'an yang terpampang di dinding itu nyaris hanya sebagai hiasan saja? Dan tak pernah diaplikasikan dalam pergaulannya dengan kami sebagai pekerjanya?
Tentu saja, ini adalah 'kuliah' kehidupan yang sedang Allah sodorkan pada saya. Agar saya lebih banyak tahu tentang hidup dan kehidupan ini. Agar mata saya 'melek', lebih terbuka, bahwa hidup bukanlah santai seperti layaknya minum kopi hangat di pagi hari.
Kata para ulama, tak ada satu denyut nadi pun yang sia-sia bagi seorang muslim. Tak ada satu tarikan napas pun yang tidak mengandung kebaikan. Dan tak ada satu jejak langkah pun yang tidak mengandung suatu pelajaran. Tentu kalau niatnya benar.
Hari-hari ini, terus terang saja, saya harus meningkatkan kapasitas kesabaran saya dan sebisa mungkin untuk secepatnya menemukan pelajaran apa yang terkandung di dalamnya.
Jam tiga dini hari, saat teman-teman saya masih dalam mimpi indahnya, saya harus bangun. Ada satu pekerjaan yang harus saya tangani pada jam itu.
Pagi hari, ketika banyak kawan saya yang kerja di tempat lain masih bisa duduk sambil minum teh, dan melihat berita pagi di televisi, saya harus mengatakan 'selamat tinggal' dengan situasi santai seperti itu. Sebab saya harus ngepel, nyapu, lap cermin, dan kadang saya harus ikut mempersiapkan sesuatu untuk anak majikan yang akan berangkat ke sekolah. Sebab tak ada pembantu rumah tangga yang tahan kerja di tempat ini.
Siang hari, ketika teman saya bisa meluruskan badan, sekedar tidur untuk istirahat melepas lelah, setelah kerja seharian, saya justru tidak bisa seperti mereka. Bahkan mau tidak mau saya harus menjatuhkan 'talak tiga' terhadap apa yang namanya tidur siang.
Awalnya, saya seperti putus asa bekerja di tempat ini. Merasa ingin sekali memberontak. Memberontak dengan situasi yang seperti ini. Tapi apa hendak dikata, ini bukan negeri sendiri. Lagi pula bekerja di negeri orang prosesnya tidak semudah bekerja di negeri sendiri.
Saya mencoba untuk pasrah saja pada-Nya. Dalam kepasrahan itu, saya mencoba kembali membuka lembaran-lembaran indah jejak Nabi, Sahabat, salafus shalih, dan para kekasih Allah yang lain. Bagaimana sebenarnya para bintang-bintang rohani ini menjalani kehidupan dalam kesehariannya.
Rasulullah dan para sahabat beliau, ternyata tidak menghadapi satu atau dua orang kafir saja, tapi banyak. Dan tentu beban mereka begitu berat untuk menghadapi musuh-musuh itu. Dan seandainya boleh membandingkan, saya ini memang tidak ada apa-apanya.
Dini hari, atau sepertiga malam yang terakhir, ternyata Rasulullah masih berdiri tegak dengan shalatnya. Bahkan sebuah hadits menerangkan bahwa kaki Nabi sampai bengkak-bengkak. Dan pada jam-jam seperti inilah para pencari Allah sedang suntuk untuk munajat padaNya.
Sebuah kisah membeberkan bahwa di pagi hari, ternyata Abu Bakar Siddiq RA sudah mandi keringat. Badannya kotor dengan sisa-sisa tepung. Karena memanggul barang-barang untuk dijual ke pasar.
Tengah hari, rupanya sahabat Umar juga menjauhi tempat tidur. Ia takut jika istirahat sejenak ada hak rakyat yang tidak terpenuhi. Dan itu jadi beban seorang khalifah kelak di akhirat.
Dan sejarah juga mencatat dua bintang rohani, anak dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, Hassan dan Hussein, adalah dua penerus Nabi, yang dalam sejarah hidupnya sangat jarang menyentuh tempat tidur di siang hari. Bahkan Hussein syahid di siang bolong, saat tenggorokannya kering demi menegakkan kalimah Allah di planet bumi ini.
Saya mencoba untuk bercermin dari beliau-beliau ini. Ternyata kehidupannya juga penuh dengan peluh, keringat, bahkan darah. Saya mencoba menghibur diri dengan jejak langkah para kekasih Allah itu.
Berangkat dari sebuah keyakinan, bahwa segala sesuatu itu ada hikmahnya, akhirnya saya bertekad untuk terus belajar dari situasi kondisi yang sedang saya jalani. Saya terus mencoba menelusiri noktah-noktah kemuliaan di balik apa-apa yang sedang saya hadapi ini. Atau paling tidak, saya jadi lebih gemar membaca kembali kisah hidup para kekasih Allah. Bukankah ini juga sebuah kemuliaan?
Wallahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.


