|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
|
ferryhadary |





Rabu, 24 Februari 2010 pukul 15:00 WIB
Penulis : Ferry Hadary
Entah sudah berapa lama ia terbaring di kuburnya. Tubuh yang memang sepuh dan renta di akhir hidupnya itu, niscaya telah terurai dan menyatu dengan tanah. Kenalan yang pernah mengenal dirinya semasa hidup di dunia, sahabat bahkan sanak keluarga, mungkin tak pernah lagi ziarah ke pusara tuanya. Perlahan, ia bagai terlupakan, lalu hilang ditelan zaman.
Hingga pada suatu waktu...
Di saat begitu banyak berita duka yang menyentak kesadaran akan kepastian datangnya sebuah keniscayaan, sepenggal kisahnya sejenak kembali tergambar di pelupuk mata.
Perawakan kecil dan tubuh yang telah ringkih, membuatnya lebih dikenal dengan sapaan Nek Cik. Ia seorang nenek yang mestinya lebih banyak menikmati kebahagiaan di usia senja. Bermain dengan cucu-cucu, ataupun mengingat indahnya masa muda dahulu seraya duduk di sebuah kursi goyang kayu. Namun, realita yang ada, ia masih saja harus mencari nafkah di sisa usianya.
Setiap hari, sebuah keranjang plastik yang kadang berisi klepon, lupis, lepat pisang, nagasari, kembang goyang, atau aneka kue tradisional buatan tangan dijinjingnya dengan lengan. Sementara, sebuah payung kecil berwarna hitam senantiasa menemani di sebelah lengan lainnya. Dengan tertatih-tatih, ia melangkah lamban menyusuri jalan kecil dan gang-gang sempit di sebagian kota. Mengetuk pintu beberapa rumah, di saat penghuninya lebih memilih berleha-leha karena sengatan panas mentari begitu garang di luar sana.
Tak banyak uang yang diperolehnya dari hasil penjualan kue-kue yang dititipkan. Dikumpulkannya serupiah dua rupiah, demi menjalani sebuah kehidupan dengan seorang anak laki-laki dewasa kurang ingatan. Berdua mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang dindingnya telah lapuk dimakan rayap.
Menyaksikan deraan kemiskinan yang menimpanya sekarang, niscaya tak seorang pun yang percaya bahwa di usia mudanya Nek Cik justru hidup dengan bergelimangan harta benda. Gelang, kalung, subang, atau perhiasan lain yang terbuat dari emas adalah aksesoris keseharian yang menunjukkan keberadaannya. Rumah sewa yang banyak semakin membuktikan bahwa ia adalah orang terkaya di kampungnya.
Namun...
Entah mengapa, menjelang usia tua, Nek Cik justru kehilangan segalanya. Tak tampak lagi perhiasan yang menghiasi beberapa bagian tubuhnya, rumah sewa pun akhirnya lenyap dibeli orang. Sama sekali tak tersisa simpanan uang di bank sebagai bekal di hari tuanya.
Sementara anak yang diharapkan ternyata tak bisa membantu apa-apa, selain hanya bisa menatap dengan pandangan kosong setiap harinya. Mungkin sumpah yang pernah terlontarkan ibunda saat ia beranjak dewasa akibat perbuatannya yang tak patut dilakukan, menjadikan laki-laki dewasa itu hanya laksana seonggok beban. Atau mungkin pula karena manja yang diberikan terlalu berlebihan, menciptakan sosoknya yang harus bergantung kepada seseorang.
Jangankan untuk membantu pekerjaan, anak laki-laki semata wayang Nek Cik itu bahkan tak bisa mengurus dirinya sendiri. Makan harus disuapkan, minum, mandi, segalanya harus dibantu oleh ibunda yang telah renta. Bahkan bau pesing dan menyengat akan merebak dari sekitar tempat tidurnya kalau tak segera dibersihkan.
Nek Cik memang bukan siapa-siapa, bahkan aku pun semakin jarang mengingatnya. Hanya sebuah kebiasaan yang selalu dilakukannya memperlihatkan keadilan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Setiap ada berita kematian, entah itu seseorang yang dikenal akrab atau hanya sekedar pernah membeli kue-kuenya, tak pernah ia lewatkan untuk bertakziah. Ditangguhkannya saat harus berjualan karena terlebih dahulu datang menghibur mereka yang mengalami musibah. Nek Cik pun tak pernah lupa membawa bunga melati, daun pandan, atau aneka kuntum bunga lain yang dimintanya dari beberapa rumah.
Selalu...
Kebiasaan itu seakan melekat erat pada sosok dirinya, hingga suatu ketika ia dipanggil Sang Maha Pencipta.
Saat itu, begitu berlimpah ruah kuntum bunga yang diberikan orang-orang ketika melayat jenazahnya. Rumah kecil dan tua tempat ia disemayamkan seakan tak sanggup menampung para pelayat. Pun, setelah itu banyak orang yang turut memikul keranda dan menghantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tubuh kecil Nek Cik kemudian dimasukkan ke liang lahat, lalu segera ditimbus dengan tanah.
Subhanallah...
Hamparan melati dan aneka ragam bunga serta daun pandan bagaikan permadani yang menyelimuti kuburannya. Seketika itu juga menebarkan semerbak wangi ke segala penjuru arah.
Jasad tua renta Nek Cik sekarang memang telah tiada, namun kebaikan yang pernah ia lakukan semasa hidupnya, jelas telah mendapat ganjaran di dunia hingga nanti di akhirat sana. Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang pasti tak akan melupakan kebaikan yang pernah dilakukan hamba-hambaNya, walaupun sebesar dzarah.
Nek Cik...
Selamat jalan Nek, beristirahatlah dengan tenang.
Klepon, lupis, lepat pisang, nagasari, kembang goyang, atau kue-kue tradisional yang pernah engkau jual mungkin tak pernah lagi disebut-sebut orang kelezatannya. Namun, amal kebaikan yang pernah dirimu lakukan, semoga semakin menggerakkan hati dan jasad setiap orang untuk berlomba-lomba pula melakukan sedikit kebaikan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melapangkan kuburanmu, Nek, meringankan segala dosa, hingga kelak surga adalah ganjaran segalanya.
Wallahu a'lamu bish-shawab.
(Tulisan ini berdasarkan kisah nyata seorang Nenek di Pontianak dan telah dimuat di buku Abu Aufa, SAPA CINTA DARI NEGERI SAKURA, Penerbit : Pena Pundi Aksara - Jakarta)
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.


