|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|





Senin, 8 Maret 2010 pukul 15:30 WIB
Penulis : Fiyan Arjun
Benar juga apa kata orang bilang, cinta itu buta. Saking butanya, itu cinta terkadang tidak bisa menalar dan berpikir logis. Hingga anggapan -maaf- tahi kucing pun bisa rasa coklat. Waduh, seram amat, ya! Begitulah lika-liku cinta, pastinya semua pernah dihinggapi bahkan pernah merasakannya.
Ikutilah cinta kalau dia memanggilmu.
Sekalipun kau harus menempuh jalan yang terjal dan kasar.
Pasrahkan dirimu padanya kalau dia memelukmu.
Kendati barangkali pedang-pedang yang tersembunyi.
Di balik sayap-sayapnya.
Akan melukaimu.
Begitulah kata Khalil Gibran. Halnya orang yang sedang lagi kasmaran alias jatuh cinta, tidak peduli sikon, mau ada angin puting beliung atau hujan badai, tetap aja dilakoni. Tanpa melihat kondisi keadaan kantong pula, mau tongpes atau nggak, ya jalan terus. Kalau bisa, ngutang dulu sama kawan, cari pinjaman.
Hal ini pun juga diterima dan dialami kawan saya. Kebetulan kawan saya ini masih berstatus ABG, hingga mengingatkan saya pada masa itu. Ia bercerita bahwa ia menyukai seorang perempuan di sekolahnya. Dan tidak tanggung-tanggung, satu kelas dengannya. Hingga saya yang mendengarkan cerita dari mulutnya ada rasa sedih juga, mengingatkan saya pada masa itu, tetapi dengan bijak saya pun menasehatinya.
”Suka sama perempuan itu sih lumrah. Tapi ya jangan teman sekelas. Lagi pula apa enaknya sih pacaran. Abang aja pernah, tapi malah banyak mudharatnya. Lebih baik, mending lu sekolah aja yang benar!”
Kawan bicara saya ini hanya diam. Tak banyak bicara. Kawan bicara yang saya taksir masih berusia kepala satu dan belum mendekati kepala dua. Mungkin apa yang saya katakan padanya benar juga, menurutnya. Dan saya pun mengingat masa-masa jahiliyah dulu. Apalagi saat itu masih berstatus putih abu-abu.
”Benar juga ya, Bang!
Akhirnya ia pun mengaminkan kata saya itu. Saya terkejut ketika ada anak seusianya mau berbuat demikian. Tak ingin melanjutkan untuk melakukan hal yang tidak diperbolehkan, pacaran. Ada pun yang diperbolehkan adalah ta’aruf setelah khitbah.
”Ya, udah sekarang lu jangan mikirin pacaran dulu, okay!” ujar saya lagi.
Saya pernah demikian, menjalani hal semacam itu. Seingat saya, sewaktu saya duduk di bangku SMU kelas dua. Tepatnya ketika orang yang saya taksir sedang ulang tahun, tanpa diketahui siapa pun. Begitu juga dengan orang yang saya taksir. Ia juga tak tahu kalau saya akan memberi surprise untuknya.
Namanya anak SMU masih berstatus pelajar, tentu saja masalah finansial nomor satu. Kadang lagi basah, kadang kering banget. Begitu yang saya alami saat saya ingin memberi surprise untuk orang yang saya taksir. Hingga saya putar otak bagaimana caranya untuk memberikan surprise walau keadaan saya dengan status pelajar masih melekat. Akhirnya saya pun mencari pinjaman kepada kawan SMU saya. Untungnya kawan saya itu solider dengan saya. Hingga saya dapat memberi surprise kepada orang yang saya taksir.
Ikutilah cinta kalau dia memanggilmu. Sekalipun kau harus menempuh jalan yang terjal dan kasar. Ternyata orang yang saya taksir lebih dahulu mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari kawan SMU saya itu, sekelas lagi, kawan yang solider sama saya. Hingga saat itu, saya yang bawa komik kesukaan orang yang saya taksir ”Donald Duck” dan cokelat sebagai surprise-nya, saya kasih kepada kawan saya yang lain di kelas. Bete!
Kendati barangkali pedang-pedang yang tersembunyi. Di balik sayap-sayapnya. Akan melukaimu. Dan, ternyata itu benar adanya. Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang. Apalagi ngutang!
Ulujami, Februari 2010
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fiyan Arjun sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.


