HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Memahami Kemampuan
26 Agustus 2010 pukul 16:15 WIB
Puasa si Kecil dan Nikmat Berbuka
18 Agustus 2010 pukul 15:45 WIB
Menghadap dengan Sebaik-baiknya
11 Agustus 2010 pukul 16:09 WIB
Jangan Lepas Jilbabmu tanpa Alasan Jelas
5 Agustus 2010 pukul 20:25 WIB
Penggaris Bu Guru
2 Agustus 2010 pukul 16:09 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 1 September 2010 pukul 16:50 WIB

Orang Lain Nggak Tau, Lha Allah?

Penulis : Eko Prasetyo

Berpuasa memang nikmat, tapi banyak tantangannya. Sekadar menahan lapar dan haus saja pasti banyak yang mampu. Beda halnya jika melawan godaan hawa nafsu. ”Itu yang susah banget!” kata seorang teman saya.

Bulan suci Ramadhan memang sangat spesial. Setiap malam, tampak shalat Isya dan Tarawih berjama'ah, terdengar lantunan orang bertadarus Al-Qur'an, dan aktivitas iktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Pemandangan yang tidak selalu bisa kita lihat setiap hari. Subhanallah, indahnya Ramadhan.

Nah, esensi ibadah shaum (puasa) Ramadhan yang menahan diri dari segala penyakit hati seperti riya, sombong, ghibah, dan lain-lain itu tidak mudah. Apalagi di tengah gempuran tayangan televisi yang kebanyakan tidak edukatif. Misalnya, sinetron yang melecehkan ortu dan guru ataupun acara komedi yang diwarnai ejek-mengejek kekurangan seseorang.

Ternyata, bertempur melawan hawa nafsu memang tidak mudah. Seorang kawan berbagi pengalaman tentang hal itu. Pada saat siang yang terik di kawasan lumpur Lapindo, Sidoarjo, dia bersama beberapa kawannya terjebak macet dekat pintu masuk tol Porong.

Kawasan Sidoarjo siang itu memang cukup panas. Terik matahari menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi orang yang tengah menjalankan ibadah puasa. Ditambah kondisi sekitar lumpur Lapindo yang gersang dan arus lalu lintas yang macet, lengkaplah tantangan tersebut.

Di dalam mobil kawan saya tersebut, semua penumpang mengeluhkan terik matahari yang bukan main itu. Apalagi, mobil itu tidak dilengkapi pendingin. Di sinilah ujian dimulai. Ketika perut sedang berdendang keroncong, suasana kian penat karena jalanan macet dan cuaca panas. Salah seorang menceletuk, ”Mokel (batalin puasa) aja yuk!”

Semua tercenung dan saling memandang mendengar usulan itu. Ragu. Tak urung, terjadi perdebatan sengit di dalam mobil itu. Di antara sekitar enam orang, lima ragu dan satu tetap teguh untuk meneruskan puasanya.

Yang ragu merasa bahwa mereka seakan tak kuat lagi untuk meneruskan puasa dalam terik matahari dan kondisi macet panjang itu. Sedangkan yang keukeuh puasa merasa bahwa ini hanya ujian kecil.

Topik pembicaraan di dalam mobil pun berubah. Lima orang sibuk mengobrolkan tentang rencana makan di suatu tempat. Salah seorang mengusulkan makan seafood. Usul itu diamini lainnya, kecuali satu orang yang menolak tadi.

Akhirnya, ketika memasuki Kota Sidoarjo, mobil benar-benar berhenti di sebuah restoran. Lima orang tadi sudah bersepakat untuk membatalkan puasa karena merasa tak kuat lagi setelah sebelumnya terjebak macet di bawah terik sang surya.

Jadilah mereka mokel berjama'ah. Satu orang yang menolak tak kuasa menahan keinginan teman-temannya itu. ”Ayolah, nggak ada yang tahu ini. Sekali ini aja mokelnya. Kan bisa dibayar nanti pas udah Lebaran,” rayu teman-temannya. Meski lemas, dia tetap melanjutkan puasanya, sementara teman-temannya tengah menikmati menu masakan laut.

”Mungkin orang lain nggak tau, lha Allah?” Begitu dia menguatkan hatinya untuk meneruskan puasanya. Sore segera beranjak petang. Adzan maghrib pun berkumandang. Dia bersuka cita menyambutnya dengan meneguk segelas teh manis. Kebahagiaan yang tak bisa diukur dan dibayar dengan apa pun.

”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10).

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Paku dan Amarah
Selasa, pukul 14:20 WIB
Jangan Lagi-Lagi!
Selasa, pukul 09:00 WIB
Seseorang yang Menyeduh Namamu
Kemarin pukul 13:13 WIB
Nurjanah | Ibu Rumah Tangga
Subhanallah... Setelah gabung dengan KotaSantri.com, saya jadi ketagihan pengen berkirim salam dengan sahabat semua. Di samping tambah teman, juga makin tambah pengetahuan. Saran untuk ke depannya, yang Pelangi / Bilik lebih ditingkatkan lagi tema-temanya. Afwan jiddan. Jazakallah.
KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2702 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels