Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://bayugawtama.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Social Worker
http://twitter.com/bayugawtama
Tulisan Bayu Lainnya
Betapa Indahnya Berumah Tangga
21 Januari 2012 pukul 12:00 WIB
Kendali Ego
18 Januari 2012 pukul 08:45 WIB
Memberi di Saat Sulit
17 Januari 2012 pukul 21:00 WIB
Meniru Cara Allah Mencinta
15 Januari 2012 pukul 11:30 WIB
Dua Kali “Dipaksa” Sedekah
13 Januari 2012 pukul 10:10 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 23 Januari 2012 pukul 08:30 WIB

Syukuri Dulu Hidup Kita

Penulis : Bayu Gawtama

Kemarin saat tengah mengurus perpanjangan paspor di Kantor Imigrasi, saya duduk bersebelahan dengan seorang wanita seusia saya. Beberapa saat kemudian, kami terlibat dalam obrolan tentang berbagai negara yang pernah disinggahinya. “Saya sudah ke duapuluh lima negara loh...” ujarnya. Saya berdecak kagum mendengar berbagai pengalamannya sementara ia masih terus bercerita satu negara ke negara lainnya. Beragam keunikan negara-negara digambarkannya, dari hal terindah sampai pengalaman buruk di beberapa negara. Sempat terbersit, “Beruntung sekali hidupnya, bisa menyambangi berbagai Negara.”

Setelah cukup lama bercerita, tiba-tiba ia bertanya, “Anda sudah berapa Negara yang dikunjungi?” Saya bilang, “Hanya beberapa saja.”

“Lalu sekarang mau ke mana?” tanyanya lagi.

“Umroh, insya Allah,” jawab saya singkat.

“Nah, itu dia Mas. Mas beruntung sekali. Dari semua negara yang pernah saya kunjungi, belum pernah sekalipun saya ke Tanah Suci. Saya iri dengan Mas,” kali ini ia sedikit terbata-bata. Matanya menyiratkan bahwa ia ingin sekali ke tanah suci.

Beberapa bulan yang lalu, seorang rekan saya yang bekerja di International Committee Red Cross (ICRC) hendak berangkat ke Thailand. Saya pun berujar, “Beruntung sekali, ikut dong. Itu salah satu Negara yang ingin sekali saya kunjungi loh.” Lalu dengan enteng dia menanggapi, “Kamu lebih beruntung, sahabatku. Saya lebih iri dengan kamu yang sudah pernah ke Gaza, Palestina. Semua orang bisa dengan mudah ke Thailand, tapi tidak semua orang bisa dengan mudah ke tanah para Nabi, Palestina,” kalimatnya menghentak kesadaran saya.

Setiap kali melihat orang berangkat ke kantor, beraktifitas rutin dengan menampakkan kesibukannya, saya kadang berpikir, “Beruntung sekali orang-orang itu ya, punya pekerjaan rutin yang membuatnya terlihat lebih aktif.” Namun sekali lagi yang tersadar dengan keberuntungan yang saya miliki sendiri, saat orang-orang yang aktif bekerja sehari-hari itu malah berkata, “Enak ya jadi orang seperti Anda, bisa lebih sering berada di tengah-tengah keluarga, nggak kena macet setiap hari, nggak pusing oleh tekanan atasan atau ulah teman sekerja. Anda memang tidak seperti saya, punya penghasilan tetap. Tapi Anda tetap berpenghasilan kan?” Saya tersenyum.

Saat silaturrahim ke rumah saya beberapa waktu lalu, seorang rekan saya bilang, “Enak ya tinggal di komplek, tenang, rumahnya rapi, jalanannya bersih, ke Mall juga dekat. Nggak seperti di kampung tempat saya, kalau hujan jalannya becek, rumahnya nggak beraturan, jauh ke mana-mana.”

Giliran saya ke rumahnya, justru saya bilang, “Ya enakan di sini, lebih asri, masih banyak pohon, dan yang paling penting suasana kekeluargaan antar tetangga lebih terasa, lebih akrab, ramah, dan bersahabat. Jauh dari Mall lebih baik, karena kita dan anak-anak jadi nggak konsumtif. Ya ada plus minusnya lah, yang penting kita syukuri saja, itu yang membuat kita merasa betah dan nyaman tinggal di manapun.”

Teman saya yang lain beda kasus, kali ini soal pasangan hidup. Waktu main ke rumahnya sambil berbisik dia bilang, “Isteri saya tuh nggak ngikutin trend, nggak tahu informasi yang berkembang, komputer nggak bisa. Saya lihat orang lain isterinya kelihatan cerdas, tahu teknologi dan informasi, perkembangan politik pun paham.”

Sejenak kemudian Isterinya datang membawa kopi dan kue. Saya seruput kopinya dan cicipi kue buatannya. “Subhanallah, ini kopi dan kuenya nikmat sekali.” Teman saya langsung komentar bangga, “Kalau urusan bikin kopi, bikin kue, masak segala jenis makanan, Isteri saya jagonyaaa.” Tak lama kemudian kami makan bersama di rumahnya dan memang benar, masakan Isterinya super lezat dan nikmat, apalagi sambalnya, wuihh.

“Nggak apa-apa nggak ngerti komputer, nggak paham politik, atau nggak ngikutin trend, tapi Isteri jago masak begini orang lain belum tentu punya, bro.” Eh dia cuma nyengir tanda sepakat.

Sobat, kadang kita iri dengan kehidupan orang lain, padahal kita memiliki kehidupan yang patut disyukuri.

Suka
Puspita menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Salsabila | Mahasiswi
Subhanallah... Walhamdulillah... Sarana dari KSC lengkap banget. Semoga bermanfaat buat kita. Amin...
KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2555 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels