HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Keluasan Rahmat Allah
12 Maret 2009 pukul 19:09 WIB
Makna Sebuah Kesabaran
4 Maret 2009 pukul 18:28 WIB
Mencoba Memahami Konsep Takdir
17 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Kesombongan dan Terapinya
9 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Hati yang Membatu
6 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Sabtu, 28 Maret 2009 pukul 16:33 WIB

Kekayaan Hati

Penulis : Sylvia Nurhadi

Alkisah, pada masa kekhalifahan ada seorang Khadi (Hakim Muslim) yang selain alim dan shaleh juga kaya-raya. Suatu hari, ketika ia sedang mengendarai keledainya di depan pasar, seorang Yahudi miskin menghentikannya. Si Yahudi menegurnya dengan mengatakan apakah Sang Khadi tidak pernah mendengar sabda Rasulullah, ”Dunia adalah bagaikan penjara bagi orang Muslim dan bagaikan surga bagi orang kafir." Si Yahudi meneruskan perkataannya bahwa itu berarti Sang Khadi bukanlah orang yang mengikuti hadits tersebut karena kenyataannya Sang Khadi lah yang kaya raya sedang dirinya sendiri miskin.

Namun apa jawaban Sang Khadi? “Hai Yahudi, ketahuilah maksud hadits tersebut; Bila aku dapat mempertahankan keimananku hingga akhir hayatku, maka hidupku yang seperti sekarang ini adalah bagaikan neraka dibandingkan hidupku di akhirat kelak. Sebaliknya engkau, bila sampai akhir hayatmu engkau tetap kafir dan tidak bertaubat, maka ketahuilah, hidup yang sesukamu itu sekarang ini adalah bagaikan surga dibandingkan hidupmu kelak di akhirat.”

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku." Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya, maka dia berkata, "Tuhanku menghinakanku." (QS. Al-Fajr [89] : 15-16).

Ayat di atas menunjukkan bahwa kebanyakan manusia merasa bahwa kemuliaan dan kehinaan itu ditentukan oleh banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki seseorang. Mereka mengira kekayaan, pangkat, ketenaran, kesuksesan, jabatan, maupun kecantikan adalah kemuliaan.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Ali Imraan [3] : 14).

Padahal tidaklah demikian. Kehidupan duniawi ini hanyalah fatamorgana, begitu pula halnya dengan kekayaan dan kemiskinan harta benda, ia hanyalah cobaan dan ujian. Hidup yang sesungguhnya adalah di akhirat. Namun hanya sedikit manusia yang mau meyakini hal ini, yaitu orang-orang yang mau menggunakan dan membersihkan hatinya.

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj [22] : 46).

Yaitu orang-orang yang senantiasa mendekatkan diri kepadaNya dengan selalu mengingat keberadaanNya dalam segala keadaan, dikala susah maupun dikala senang.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya). Dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka." (QS. Al-Anfaal [8] : 2-3).

“(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihatNya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat." (QS. Al-Anbiyaa [20] : 49).

Mereka ini menyadari bahwa hidup di dunia hanya sekejap mata dan suatu ketika ia harus mengembalikan apa yang dititipkan kepadanya, baik harta maupun kesenangan kepadaNya. Rasulullah bersabda, ”Setiap kesenangan di dunia pasti ada puncaknya."

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdo'a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo'a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Yunus [10] : 12).

Itulah sifat buruk manusia, yaitu kefasikan. Sesungguhnya di dalam hati mereka meyakini bahwa ada ‘kekuatan’ lain yang menguasai hidup mereka. Namun karena kesombongan dan keangkuhannya, ia tidak mau mengakuinya. Dan pada saat ia tidak sanggup dan tidak berdaya barulah ia memohon pertolongan kepada ‘kekuatan’ itu yang segera akan ditinggalkannya begitu ia terlepas dari kesusahan. Namun demikian sesungguhnya di samping sifat jelek di atas, Allah SWT membekali pula manusia dengan sifat baik, yaitu ketakwaan.

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. As-Syams [91] : 8-10).

Dan hanya hatilah yang dapat mengatur kedua sifat yang berlawanan ini, yaitu hati yang kaya.

”Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan itu adalah dengan kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari - Muslim).

Hati yang kaya adalah hati yang lapang, hati yang mudah memaafkan segala kesalahan, hati yang tidak dengki ketika orang lain dalam kesenangan, hati yang tidak suka berbohong, hati yang tidak gemar berburuk sangka, hati yang dapat menjaga kesabaran ketika musibah menghampiri. Mereka yang memiliki hati yang seperti ini, hidupnya akan tenang dan dengan demikian memudahkan masuknya iman dan hidayah.

Rasulullah bersabda, "Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah tali silaturahmi, dan dirikanlah shalat pada malam hari ketika manusia tertidur, niscaya kamu masuk surga dengan selamat.”

Namun untuk mengetahui benar tidaknya keimanan seseorang, Allah SWT berkehendak untuk menguji keimanan itu terlebih dahulu, apakah ia berdusta atau tidak.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "Kami telah beriman," sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-Ankabuut [29] : 2-3).

Sebaliknya, hati yang sempit adalah hati yang sombong, hati yang tidak peka terhadap lingkungan, hati yang buta. Hati yang seperti ini tidak sanggup melihat peringatan yang diberikanNya. Dan Allah pun berlepas diri dari orang-orang seperti ini. Orang-orang ini akan terus dimanjakan dengan segala kesenangan duniawi sesuai dengan yang diinginkannya, itulah istidraj.

Hingga pada suatu waktu yang tidak diperkirakannya, Allah menampakkan kekuasaan yang telah mereka abaikan dengan direnggutnya semua kesenangan itu dengan sekonyong-konyong. Dan itulah orang-orang yang merugi, tempat mereka kembali adalah neraka jahanam.

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am [6] : 44).

Sedangkan orang-orang yang memiliki kekayaan hati, surgalah tempat mereka kembali.

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS. Al-Fajr [89] : 27-30).

Wallahu a'lam.

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Paku dan Amarah
Selasa, pukul 14:20 WIB
Jangan Lagi-Lagi!
Selasa, pukul 09:00 WIB
Seseorang yang Menyeduh Namamu
Kemarin pukul 13:13 WIB
Ida Jubaidah | Guru
Terima kasih sudah diundang untuk memasuki KotaSantri.com. Blom apa-apa juga, perasaan mah udah betah.
KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2808 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels