Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Urgensi Menjaga Silaturrahim
11 November 2009 pukul 17:15 WIB
Hubungan antara Piano dan Al-Qur'an
7 November 2009 pukul 20:00 WIB
Perempuan-Perempuan Tangguh
29 Oktober 2009 pukul 20:50 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 16 Desember 2009 pukul 18:44 WIB

Akhlak dan Ketakwaan

Penulis : Sylvia Nurhadi

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat [49] : 13).

Manusia adalah mahluk sosial; yang selalu membutuhkan perhatian, teman, dan kasih sayang dari sesamanya. Setiap diri terikat dengan berbagai bentuk ikatan dan hubungan, di antaranya hubungan emosional, sosial, ekonomi, dan hubungan kemanusiaan lainnya. Maka demi mencapai kebutuhan tersebut, adalah fitrah untuk selalu berusaha berbuat baik terhadap sesamanya. Islam sangat memahami hal tersebut, oleh sebab itulah silaturrahim harus dilaksanakan dengan baik. Silaturrahim dijalankannya antara lain dengan saling mengunjungi, menjenguk yang sakit, saling membantu, saling menghormati, dan tidak berbuat fitnah. Dengan adanya hubungan dan silaturrahim yang baik, maka ia akan mengantarkan manusia kepada kemudahan, ketenangan, dan kedamaian di dunia. Allah SWT sangat murka melihat seorang yang tidak mau melaksanakan silaturrahim, apalagi bila orang itu memiliki kekuasaan.

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka." (QS. Muhammad [47] : 22-23).

Demikian pula terhadap orang yang sombong. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisaa' [4] : 36).

Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak.”; “Seorang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling sempurna akhlaknya.”; “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah tali silaturrahim, dan dirikanlah shalat pada malam hari ketika manusia tertidur, niscaya kamu masuk surga dengan selamat.” (HR. Bukhari - Muslim).

“Tidak dikatakan beriman orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari); “Bukanlah orang Mukmin orang yang selalu mencela, mengutuk, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Muslim). Rasulullah ditanya, apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga. Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.” Rasulullah ditanya, "Apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka?" Rasulullah menjawab, ”Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi).

Setiap manusia adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Seorang laki-laki yang telah memutuskan menikah, maka ia adalah pemimpin bagi keluarganya. Sebagai kepala keluarga, ia wajib menafkahi dan mengayomi anak dan istrinya. Masing-masing anggota keluarga memiliki tugas dan tanggung-jawabnya masing-masing. Seorang istri wajib mendidik dan memberikan kasih-sayang, perhatian, dan kelembutannya kepada anak-anaknya, menjaga harta dan kesuciannya serta menghormati suaminya. Sedangkan bagi seorang anak, wajib baginya menghormati dan menyayangi kedua orangtuanya.

“Hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Israa' [17] : 23-24).

Melalui perut seorang ibulah manusia dilahirkan. Dari Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari neneknya RA, ia berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbuat baik?” Beliau bersabda, ”Ibumu.” Aku bertanya lagi, ”Kemudian siapa?" Beliau bersabda, ”Ibumu.” Aku bertanya lagi, ”Kemudian siapa?” Beliau bersabda, ”Ibumu.” Aku bertanya lagi, ”Kemudian siapa?” Beliau bersabda, “Ayahmu, kemudian yang lebih dekat." (HR. Abu Dawud dan Tarmidzi).

Sebaliknya, Ia menyukai orang yang mau segera bertaubat, menyadari dan memperbaiki kekhilafan seraya meminta sekaligus memafkan kesalahan orang lain.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imraan [3] : 133-134).

Berbuat baik kepada sesama manusia memang tidak mudah. Bahkan Allah SWT mengumpamakannya sebagai jalan yang mendaki lagi sukar. Namun itulah jalan bagi orang-orang golongan kanan, yaitu golongan orang-orang yang disayangiNya.

“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan." (QS. Al-Balaad [90] : 12-18).

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak akan bertambah dekat kepada Allah, bahkan ia akan tambah jauh dariNya.”; “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
(QS. Ath-Talaaq [65] : 2-3).

Maka untuk itu, seharusnya kita berusaha agar akhlak kita sesuai dengan apa yang dikehendakiNya, akhlak yang mendekatkan kepada ketakwaan. Yaitu dengan cara sebagai berikut :

1. Mencari ilmu (yang dapat membedakan mana akhlak yang baik dan mana yang buruk). Walaupun sesungguhnya setiap manusia memiliki naluri yang sama untuk menilai suatu perbuatan, apakah itu baik atau buruk. Karena akhlak adalah fitrah.

“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik dan dosa itu adalah yang tidak nyaman dalam dirimu dan engkau tidak suka dilihat oleh orang lain.” (HR. Muslim).

2. Mengokohkan nilai-nilai iman. Keinginan berakhlak mulia yang selalu disandarkan karena Allah SWT, bukan karena sebab lain.

3. Melatih diri. Yaitu dengan cara memperbanyak ibadah sunnah, seperti shalat sunnah, puasa sunnah, dan lain-lain.

4. Bergaul dengan orang shaleh. Yaitu dengan mencari lingkungan yang baik dan meninggalkan lingkungan yang buruk.

5. Mengambil teladan yang baik.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33] : 21).

6. Membiasakan diri untuk mau menerima nasehat yang baik.

Do'a Rasulullah, “Allahummahdinii ihsanil ahklak fainnahu laa yahdiil ahsaniha illa Anta, washrif annii sayyiahaa fainnahu laa yashrifu annii sayyiahaa illa Anta.” (Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada akhlak yang baik, sesungguhnya tiada yang memberi petunjuk kepada akhlak yang baik kecuali Engkau. Palingkanlah aku dari akhlak yang buruk, sesungguhnya tiada yang memalingkan kecuali Engkau).

Wallahu a'lam bishshawwab.

Disarikan dari Minhajul Qashidin oleh Ibnu Qudamah

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Paku dan Amarah
Selasa, pukul 14:20 WIB
Jangan Lagi-Lagi!
Selasa, pukul 09:00 WIB
Seseorang yang Menyeduh Namamu
Kemarin pukul 13:13 WIB
Prof | Cloth Design
Moga KotaSantri.com bisa jadi situs Jejaring yang Populer n meng-Global! Amin!
KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2952 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels