|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|
|
|
http://vienmuhadi.wordpress.com |





Rabu, 13 Januari 2010 pukul 18:11 WIB
Penulis : Sylvia Nurhadi
“Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.” (QS. Az-Zumar [39] : 52).
Itu sebabnya dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendapati kenyataan bahwa tidak semua orang yang bekerja mati-matian bahkan sepanjang hidupnya pasti kaya raya. Sebaliknya, tidak semua orang yang bekerja ‘normal-normal’ saja hidupnya kekurangan. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa rezeki adalah satu dari empat hal pokok yang telah ditetapkan pada awal kehidupan setiap manusia.
Namun demikian, ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu berusaha dan bekerja dalam rangka mencari rezeki. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qudha’i, dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab RA, Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat dalam keadaan lapar, dan pulang dalam keadaan kenyang.“
Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim meriwayatkan dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya, Amr bin Umayah RA, ia berkata, Seseorang berkata kepada Rasulullah SAW, "Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal?" Rasulullah SAW bersabda, "Ikatlah kemudian bertawakkallah.“
Berdasarkan kedua hadits di atas dapat disimpulkan bahwa rezeki walaupun telah ditetapkan, namun tetap harus dicari, dijemput. Dengan bagaimana? Ya dengan bekerja mencari nafkah. Allah SWT telah menyediakan kotak rezeki masing-masing. Kotak tersebut ada yang besar ada yang kecil. Ini adalah cobaan bagi kita agar dapat diketahui seberapa besar rasa syukur seseorang. Jadi, besar atau kecilnya kotak rezeki seseorang bukanlah cermin kasih sayangNya.
Justru pada kenyataannya, seringkali seorang yang memiliki kotak rezeki besar malah lupa bersyukur. Lupa akan tugas dan kewajiban yang diberikanNya.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.” (QS. Adz-Zariyat [51] : 56).
Alkisah adalah Sa’labah dan istrinya. Mulanya mereka adalah sepasang hamba Allah yang shaleh dan shalehah. Mereka hidup sangat miskin hingga untuk shalat pun mereka harus bergantian kain sarung demi menutup aurat mereka. Suatu hari, karena bosan hidup dalam kekurangan, Sa’labah merengek agar Rasulullah bersedia memohonkan do'a kepada Allah SWT agar mereka berdua diberi rezeki yang berlebih.
Pada mulanya Rasulullah enggan mengabulkan permintaan tersebut karena khawatir rezeki yang berlebih bakal memalingkan mereka. Namun karena terus didesak, akhirnya Rasulullah pun mendo'akan mereka. Dan dalam waktu tak lama, do'a Rasulullah pun dikabulkanNya.
Singkat kata, Sa’labah memperoleh seekor kambing. Dan berkat ketekunan mereka berdua, kambing mereka makin hari makin banyak. Sebaliknya, karena makin sibuk, maka makin sedikit pula waktu yang mereka sisihkan untuk beribadah, untuk mengingatNya. Shalat yang semula didirikan pada awal waktu, sedikit demi sedikit mulai bergeser. Puncaknya, mereka bahkan menolak untuk membayar zakat! Astaghfirullah… Sayang sekali bukan?
Bagi sebagian orang, rezeki adalah identik dengan harta dan materi yang notabene terlihat secara kasat mata. Ini tidak salah, namun sebenarnya rezeki tidak selalu demikian. Karena pada akhirnya sebenarnya rezeki terbesar itu adalah kesehatan. Karenanya sebesar apapun harta dan materi yang kita miliki, tidak dapat dinikmati jika kita sakit. Ini terbukti dengan kenyataan bahwa ketika sakit kita akan berusaha memperoleh kembali kesehatan tersebut berapa pun uang dan harta yang harus dikorbankan.
Di samping kesehatan, adalah kebahagiaan dan ketentraman hidup. Rezeki dalam bentuk inilah yang sering kali orang lupa. Betapa sering kita mendengar kisah orang kaya raya yang hidupnya tidak bahagia. Bila memungkinkan, pasti orang seperti ini rela menukar berapa pun banyak hartanya agar pasangan hidupnya, anak-anaknya, atau teman-temannya kembali ke pangkuannya, memperhatikan serta mengasihi dan menyayanginya.
Yang juga kita sering lupa. Dengan sejumlah besar uang di tangan bila Allah menghendaki hujan untuk tidak turun ke bumi selama berbulan-bulan atau matahari tidak muncul selama berhari-hari atau sebaliknya matahari terus bersinar sepanjang 24 jam atau hujan salju lebat selama berminggu-minggu. Dalam keadaan seperti ini, dapatkah tanaman menghasilkan buah-buahan, sayur-sayuran, padi-padian, dan sebagainya? Mungkinkah kita tenang-tenang saja ketika sungai-sungai meluap dan membanjiri rumah kita? Lalu apa gunanya uang kita yang bergepok-gepok itu.
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (QS. Ibrahim [14] : 32-33).
Dengan kata lain, puncak tertinggi rezeki itu sesungguhnya adalah keimanan. Bagi orang-orang seperti ini, sebagaimana burung dalam hadits paling atas, baginya rezeki adalah ketika ia berangkat pagi dalam keadaan lapar, namun pulang dalam keadaan kenyang! Subhanallah…
Abu Hurairah RA mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba berkata, hartaku, hartaku, hartaku. Padahal hartanya yang sesungguhnya hanya tiga macam; apa yang dimakan lalu habis, apa yang yang dipakai lalu lusuh (rusak), dan apa yang disedekahkannya lalu tersimpan (untuk akhirat). Selain yang ketiga macam itu, lenyap atau ditinggalkannya (warisan) bagi orang lain.” (HR. Muslim).
”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An-Nisa [4] : 9).
Namun dengan adanya ayat di atas ( juga sejumlah hadits yang senada), menandakan bahwa kita sebaiknya tidak meninggalkan anak-anak kita dalam keadaan lemah alias kekurangan (harta atau ilmu). Karena hal yang demikian cenderung membuat anak keturunan kita menjadi tergantung kepada orang lain hingga mudah diperalat dan akhirnya menjadi lupa akan Tuhannya.
Wallahu a'lam bishshawab.
http://vienmuhadi.wordpress.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.


