HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://vbmaya.kotasantri.com
Bergabung
6 Mei 2009 pukul 19:51 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Pengajar
Tulisan Febi Lainnya
Mengajak Anak-anak Suka Membaca
24 Juli 2010 pukul 18:11 WIB
Bukan Perempuan Biasa
15 Juli 2010 pukul 20:15 WIB
Manusia dan Ilmu
9 Juni 2010 pukul 18:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 18 Agustus 2010 pukul 18:55 WIB

Kurva-Kurva Kotor di Jiwa Manusia

Penulis : Febi Robianti

Para sahabat di zaman Rasulullah yang agung sering seolah baru mendengar sebuah ayat, walau itu adalah kali kesekian ayat tersebut dibacakan. Mata mereka mencucurkan telaga bernama taubat. Luar biasa memang. Al-Qur'an selalu menjadi baru dan mewarnai jiwa-jiwa yang sendu yang merindu kedekatan dengan Allah SWT. Ayat-ayat samawah (langit) itu laksana butiran berlian yang senantiasa indah dipandang dari berbagai sisi dan menggelorakan jiwa hingga mengikis ketakutan akan mati.

Akan tetapi, ternyata, wahai saudaraku terkasih, tidak semua orang bisa merasakan kilatan keajaiban sabda-sabda langit ini. Hanya mereka yang menjaga kebersihan nuraninya saja yang bisa tersentuh oleh Al-Qur'an Al-Karim. Hanya mereka yang mencintai Allah dengan kesucian hati saja yang mampu memahami dan menangkap fenomena ghaib, pengalaman ruhani yang tinggi ketika membacanya. Yang lain? No way! Tak ada cara bagi manusia bertendensi duniawi bersentuhan dengan spirit Al-Qur'an. Sepintar apa pun dia. Semahir apa pun berbahasa Arab. Sepandai apa pun mencipta sastra dari berbagai genre. Mereka hanya bisa membaca, memahami, dan menikmati ayat suci ini sebatas kedalaman maknanya, sebatas keindahan bahasanya saja. Bahkan, mereka mempelajarinya untuk menikam umat Islam yang jauh dari Al-Qur'an untuk menjadikan mereka semakin jauh.

Al-Qur'an hanya berupa cangkang! Tak membangun marka di dalam hati. Tak mencipta rindu dalam qalbu untuk berjumpa dengan Penguasa Alam Semesta. Tak merasa terjamin kala realita yang ada bersama problematika yang menumpuk di setiap sudut kota begitu menggelisahkan jiwa! Bahkan, tak membuat bangkitnya semangat untuk mendzahirkan kerjaan Allah SWT di muka dunia.

Sebuah pengandaian sederhana dari guruku tersayang. Beliau bercerita, jika seseorang melewati sebuah tempat yang sampah menggunung di sana. Kubangan air kotor membentuk kurva-kurva di atas tanahnya yang berwarna hitam dan bau busuk begitu menusuk dan menyebar. Pastilah dia menutup hidungnya dan berusaha menghindari genangan demi genangan sebaik mungkin. Bisa jadi mereka mengangkat sedikit celana dan roknya, menjinjitkan kakinya, dan menutup hidungnya. Ditambah menahan mual yang menggejolakan perut. Ya! Ini sama halnya dengan persentuhan kita dengan lingkungan yang lekat dengan penyimpangan, pemaksiyatan, pengkhianatan aqidah! Jika sensitifitas masih berupa muatan yang murni di dalam jiwa, tentu manusia akan merasa jijik terhadap semua tingkah polah dan pola pikir yang bersebrangan dengan kehendak Ilahiyah. Tapi, jika tidak? "Ah, biasa aja tuh! Emang sudah biasa begitu." Na'udzubillah summa na'udzubillah.

Sudahkah kita merasa JIJIK?

Konon, itulah yang dinamakan taqwa. Berhati-hati agar tidak terkena polusi-polusi fisik dan ruhani. Ah, kini resistensi kita menurun rupanya! Antibodi yang ada harus dipacu dengan suplemen. Namun, Allah Mahatahu. Al-Qur'an diturunkan untuk menjadi Syifa'. Obat bagi ruhani yang sakit. Bukan sekadar suplemen. Namun, Allah juga menetapkan. Hanya orang yang mau menyadari bahwa ruhaninya sakit. Hanya orang yang mau merendahkan diri untuk dikoreksi, diobati, dan diatur dengan ayat-ayat Allah saja yang bisa mendapatkan kemanfaatan petunjuk dan rahmat, kemuliaan Asy-Syifa ini.

Allah menyapa kita dengan surat Al-Waqiah dalam ayat ke77-79. Ia SWT berkata, "Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz). Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan."

Apakah kita termasuk salah satu di antaranya?

Simaklah ayat Al-Qur'an di bawah ini. Mahabenar Allah dengan Segala Firmannya, "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang beriman." (QS. Yunus : 57).

Saudaraku yang dikasihi Allah, lihatlah. Di awal ayat Allah menyeru seluruh manusia, tetapi di akhir ayat terjadi pengkhususan (takhsis), bahwa penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat DITUJUKAN bagi orang-orang beriman.

Mari lenyapkan ketakutan dan kegelisahan hidup dengan meminta kepada Allah untuk disucikannya jiwa-jiwa kita. Mari memohon agar jiwa-jiwa ini segera menjadi layak untuk bersentuhan dengan jiwa Al-Qur'an. Mari memohon agar semangat terpompa dalam dawam cinta perjuangan penegakan kalimah Allah di bumi pertiwi. Marilah menuju pentakhsisan, pengistimewaan, agar Allah memanggil kita dengan panggilan kecintaan, "Yaa ayyuhalladziina aamanu."

Suka
Nurliyanti dan bambang menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Febi Robianti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Paku dan Amarah
Selasa, pukul 14:20 WIB
Jangan Lagi-Lagi!
Selasa, pukul 09:00 WIB
Seseorang yang Menyeduh Namamu
Kemarin pukul 13:13 WIB
Nia | Guru
KotaSantri.com top dech. Artikelnya bagus-bagus banget, sangat menyentuh kalbuku sampe berurai air mata membacanya dan sarat dengan hikmah. Bukankah hikmah adalah milik para mukmin yang tercecer? So, buruan gabung.
KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.4539 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels